Unhas Kukuhkan 4 Guru Besar, 3 di Antaranya Istri Profesor

 

Maniawati Zainuddin

 

Perempuan kelahiran Makassar 13 Februari 1970 ini dalam orasinya mengatakan, padi lokal bukan sekadar objek penelitian, melainkan juga poros keilmuan yang memungkinkan bioteknologi tumbuhan dikembangkan secara kontekstual, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan kebutuhan pangan global. Ke depan penelitian plasma nuftah padi lokal akan diarahkan untuk memperkuat pemahaman mengenai keragaman genetik, karakter fisiologis, dan sifat adaptif padi lokal terhadap lingkungan tropis, juga pemahaman lebih mendalam terhadap interaksi biologis yang menopang padi lokal, mikro-organisme dan lingkungan tumbuhnya.

“Riset ke depan akan menempatkan padi lokal sebagai pusat sistem yang menghubungkan kualitas pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan,” ujar ibu dua anak putri pasangan Prof.dr.H.A.Zainuddin Maskur, Sp.KK.(alm.) dan almarhumah Hj. A.Nurbaya Yahya tersebut.

Alumnus MIPA Unhas (1995), Magister IPB (2000), dan Doktor Ilmu Pertanian Unhas (2009) ini berharap pengembangan bioteknologi tumbuhan dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi ketahahan pangan, tanpa kehilangan kedalaman ilmiah dan kepekaan terhadap konteks lokal.

“Tanggung jawab akademisi, terutama pada jenjang guru besar bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, melainkan menjaga agar pengetahuan tersebut berkembang dengan arah yang tepat. Dengan kesadaran tersebut, maka tugas seorang guru besar adalah menjaga agar perdebatan keilmuan terus berjalan dengan jujur, relevan, dan berpihak pada kehidupan,”Pengurus Tim Penggerak PKK Kota Makassar (2020-2024) tersebut mengajak.

BACA JUGA:  Kembangkan Literasi, Mahasiswa KKNT Unhas Gelar Program ‘Cerdas Mengulas Buku’ di Sekolah Dasar

 

Nurhayaty Natsir

 

Dalam praktik kedokteran gigi modern, kata perempuan cantik ini, estetika terkait erat dengan kesehatan dan kualitas hidup karena memengaruhi kepercayaan diri, interaksi sosial, dan kesejahteraan psikologis.

“Oleh karena itu, perawatan estetik harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan yang utuh, selama dilakukan rasional tanpa mengorbankan integritas biologis gigi dan jaringan pendukung,” ujar perempuan kelahiran Makassar 18 Mei 1964 tersebut mengutip pandangan Meireles.

Kedokteran gigi estetika modern, kata alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Unhas (1989) ini, menekankan keselarasan estetika, biologi, dan fungsi melalui intervensi yang aman, minimal invasif, dan berorientasi jangka panjang. Ke depan, riset difokuskan pada material dan teknologi biokompatibel, reparabel, dan adaptif, termasuk biomaterial, digital dentistry, dan ‘artificial intelligence’ (AI) — kecerdasan buatan — untuk meningkatkan akurasi dan prediktabilitas perawatan.

“Kurikulum kedokteran gigi perlu mengintegrasikan ilmu dasar, keterampilan klinis, etika, dan riset untuk menghasilkan dokter yang kompeten, kritis, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” lulusan S-3 ‘Dental Science’ University of Hiroshima Japang (1997) yang meraih Sp-1 Ilmu Konservasi di Unhas (2013) menyimpulkan orasi ilmiahnya.

BACA JUGA:  Mahasiswa KKN Unhas Gelar Program “Pucak Heritage Class” di SMPN 24 Tompobulu

Marhamah

Tampil pada sesi terakhir pengukuhan, perempuan kelahiran Soppeng 5 Maret 1963 dan alumnus SMA Negeri Watansoppeng (1981) ini mengatakan, beberapa penyakit sistemik pada anak yang menimbulkan kelainan pada rongga mulut adalah;lupus dan penyakit radang usus (croha), diabetes tipe 1, “acquired immuno deficiency syndrome” (AIDS) — kondisi saat sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu melawan infeksi, leukimia (kanker sumsum tulang yang berdampak pada produksi sel darah putih), anemia sel sabit, epilepsi (gangguan sistem saraf pusat yang ditandai kejang berulang tanpa pemicu yang jelas), dan fibrosis kistik (penyakit genetik bawaan yang menyebabkan lendir dalam tubuh menjadi kental dan lengket.