Hari berjalan terus. Seakan tak mau tahu dengan lelahnya Wiah.
Dua tahun kemudian, Allah kembali menitipkan rezeki.
Lahirlah anak kedua. Seorang bayi perempuan. Cantik dan manis.
Rasa bahagia kembali menyelimuti keluarga kecil Wiah bersama suaminya, Pak Guru Ullah.
Bayi perempuan itu diberi nama Mulya artinya “yang mulia, yang berharga”
Nama itu doa Wiah. Agar kelak anaknya tumbuh menjadi perempuan yang mulia hatinya, mulia budi pekertinya.
Meskipun kerikil-kerikil tajam kadang datang menerjang rumah tangga itu…
Wiah selalu bersabar.
Meski jiwanya kadang letih, kadang rapuh…
Ia selalu melihat kedua buah hatinya.
Wiah punya prinsip dan komitmen tinggi:
_”Jangankan kerikil, jangankan batu, jangankan gunung yang tinggi, jangankan badai dan ombak yang menghempas…
Demi kedua putra dan putriku, aku harus tetap bertahan.”_
Hari-hari Wiah berjalan seperti air sungai. Tenang di luar, tapi deras di dalam.Pagi, siang, malam… hanya itu yang ia kenal.
Menyusui Hajuddin, menimang Mulya, memasak, mencuci, menjemur.
Tangan kecilnya yang dulu hanya memegang buku, kini kapalan karena lesung dan ulekan.Kadang, di tengah malam, ketika semua sudah tidur…
Wiah duduk di beranda.
Angin kampung suaminya terasa panas Beda dengan angin di kampung halamannya. Yang dingin dan sejuk, Ia menatap langit. Bertanya dalam hati:
“Ibu… apa kabar di sana? Ayah masih adakah so’ri untukku ?
Nenek masih menungguiku di pintu kah?”Tak ada jawaban. Hanya jangkrik dan doa yang tercekat di tenggorokan. Pak Guru Ullah baik. Tapi sebagai guru, pikirannya sering di sekolah.
Tanggung jawabnya besar. Wiah mengerti.
Maka semua beban rumah, ia gendong sendiri. Ada kalanya kerikil itu datang, perbedaan adat, ujian ekonomi.
Kata-kata yang tajam seperti pisau, mampir di telinganya. Oh inikah anak dari kejauhan,
“Anak Gallarang, masa begini kerjanya…”Dada Wiah sakit. Tapi ia telan.
Demi Hajuddin yang mulai belajar memanggil “Ibu”.
Demi Mulya yang senyumnya melelehkan semua lelahnya. Wiah punya satu tempat mengadu: sajadah.
Di sepertiga malam, ketika kampung sepi, ia sujud paling lama.
Air matanya jatuh ke lantai tanah.
“Ya Allah… kuatkan aku. Aku titip anak-anakku.
Jadikan aku ibu yang tidak menyerah. Jadikan aku cukup untuk mereka.”Tuhan mendengar.
Hajuddin tumbuh cerdas, suka bertanya seperti ayahnya.
Mulya tumbuh lembut, suka menolong seperti ibunya.
Setiap “Ibu” yang keluar dari mulut mereka…
Itu obat untuk semua rindu dan luka Wiah.Tapi hidup tidak pernah benar-benar tenang. Suatu hari, suaminya Pak guru Ullah menyampaikan maksudnya untuk pindah ke kabupaten yang lain agar bisa hidup lebih baik, demi perbaikan ekonomi demi anak anak mereka, Wiah merenung tanpa suara dadanya sesak kata kata ini ia harapkan untuk kembali ke kampung halamannya namun ternyata ke kampung yang lain yang tak pernah ia tahu, tak pernah ia dengar,


br
br
br






br
br






br