banner 728x90

SELLENG RINDU

Oleh: Hendri Tamrin Lakkase’        Makassar, Oktober 2013

Cinta dan perpisahan ibarat sebuah sesak yang wajib menjadi tamu, entah berapa lama sesak itu menjadi sepi yang selalu menari tanpa irama.
Sore itu merupakan hari ke seratus enam puluh Yuda dan Itha saling kenal. Namun sore itu juga merupakan hari ke empat pertemuan pertama dan perpisahan pertama mereka yang akan menjadi pelangi-pelangi bisu di antara gumpalan awan yang saling bertaut antara Pasangkayu dan Makassar. Mereka akan terpisah oleh lambaian-lambaian daun nyiur yang saling meliuk.
Sudah tiga jam Yuda dan Itha di pantai itu, mereka mengharapkan waktu akan sangat lambat berpuitar, mereka masih mengharap kiranya sore itu bertambah panjang. Wahai matahari janganlah engkau terbenam.
Ini sore terakhir, mentari terakhir yang menyaksikan mereka. Ya! Esok Yuda akan kembali ke kotanya. Di bawah pohon yang teduh mata mereka nanar meyambut riak ombak, mata mereka seolah memaksa agar sang mentari tak beranjak turun ke peraduan, tapi apa daya detikl tetap bergulir dan semakin temaram.
“Masih ketemu ji besok pagi.” Yuda memecah sunyi.
Itha hanya merunduk bisu, sementara Yuda tak henti menatap senja.
Sejak perkenalan mereka empat bulan lalu di media sosial, ini adalah pertama kali mereka bertemu, jarak Makassar dan Pasangkayu tak menyurutkan niat Yuda untuk bersua sang pemikat hati nun jauh di ujung Sulawesi Barat, dengan kuda besinya Yuda menembus malam merangkai kabupaten dengan semilir angin rindu akhirnya Yuda sampai di bumi Vova Sanggayu.
“Kapanki’ datang lagi.” Akhirnya Itha buka suara.
Yuda melirik ke wajah Itha, kemudian memandang laut yang semakin gelap.
“Ayo ku antarki pulang.” Yuda bergesas berdiri mengajak Itha pulang.
Di perjalanan pulang tak ada suara di antara keduanya, hanya sunyi dan temaram lampu jalan yang menemani pikiran mereka. Di depan rumah setelah mengucap salam Yuda pun pamit.
Sudah tiga jam Yuda tak kunjung lelap, pikirannya membayangkan esok kata apa yang harus di ucap untuk pamit, esok pagi dia harus pulang karena pekerjaan telah memanggilnya. Menjelang jam dua dini hari karena angan yang lelah Yuda pun tertidur.
Adzan subuh membangunkan Yuda, setelah shalat dia pun berkemas, setelah sarapan dan menyiapkan segala sesuatunya dia pun bergegas menemui Itha. Pikirannya ingin cepat bertemu namun ingin juga memperlambat waktu. Dan mereka bertemu.
Seperti kemarin tak banyak kata terucap pagi ini, hanya waktu yang seolah sia, dan terbuang oleh pikiran mereka, sekilas mereka bertatap membuang jenuh yang entah untuk apa, seolah huruf merangkai kalimat membisikkan asa dan harap, tak ada ceria.
“Nda bisa ditunda kepulanganTa’?” Kalimat itu meluncur saja dari Itha.
Yuda terkesiap, begitu berbeban perasaan pujaannya ditinggalkan.
“Sabar ki’ saja nah, esok lusa kalau Tuhan izinkan ki’ kita ketemu ji lagi.”
Yuda bangkit dan pamit, jabat tangan terakhir mereka paling tidak untuk saat ini adalah pertanda suatu hari mereka akan bersama dalam ikatan janji suci.
Sudah empat bulan sejak Yuda meninggalkan Pasangkayu, rutinitas yang terpisah di antara mereka tak menjadikan keduanya renggang, ada kala canda dan cemberut menghiasi angan dan harap. Janji manis dan syair indah bak pujangga telah menjadi hiasan di relung jiwa. Tak ada harap selain pelangi, tak ada layu selain mewangi.
Satu keteguhan yang selalu Yuda pegang sebagai lelaki Bugis Makassar, prinsip dan relung Ininnawa, “Apapun takdir dan perubahan hidup yang akan terjadi kelak, niat baik tetap di persaksikan kepada Dewata Seuwae, betapa teguh cintanya, merangkai erat, tertanam dan tersabda, Kuallengi Tallanga Na Toalia.”
Namun waktu mempunyai jawabannya sendiri…

Iklan Amri Arsyid
BACA JUGA:  Oplas