Berangkat

Pak Guru Ullah berhenti sejenak.
Ia menatap istrinya dalam-dalam.

_”Wiah… kita akan memasuki kampung ini.
Berdoalah.
Semoga di kampung ini, di daerah ini,
kehidupan kita lebih baik.
Kita semua sehat dan bahagia.
Semoga anak-anak kita tumbuh dewasa,
menjadi anak yang berbakti.
Bukan hanya pada kita orangtuanya…
tapi juga pada agama, nusa, dan bangsa.”_

br

Wiah duduk di pinggir jalan.
Di batas kampung itu.
Ia menggandeng kedua tangannya.
Mengajak Hajuddin dan Mulya mengangkat tangan juga.
Mengikuti setiap lantunan doa yang keluar dari lisannya.

Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan karena takut.
Tapi karena berharap.

RUMAH PERTAMA.

Setelah berdoa, mereka berjalan menuju rumah Kepala Kampung.
Untuk melaporkan kedatangan mereka.

Dan subhanallah…
Mereka diterima dengan sangat baik. Sangat ramah.

Keluarga Kepala Kampung mengajak mereka shalat berjamaah.
Menjamu makan malam.
Mengobrol ringan sambil menunggu Isya.

Malam itu, di atas sajadah,
Wiah bersujud lama.
Sujud syukur yang tak henti-hentinya.

_”Ya Allah… terima kasih.
Telah mengantarkan kami sampai dengan selamat.
Telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik.”_

BACA JUGA:  TENSI DARAH

brbr
brbr
br