Berangkat

JALAN SETAPAK

Setelah meninggalkan kampung halaman suaminya, kini mereka memasuki jalan setapak.
Seperti yang dikatakan Pak Guru Ullah.

br

Mereka melewati persawahan yang kering.
Tak ada sawah yang menghijau.
Tak ada padi yang menguning.
Yang ada hanya tanah retak-retak karena kekeringan.
Sekering hati Wiah.

Panas terik.
Peluh bercampur air mata.
Kadang mereka melewati kebun yang gersang, tanpa tanaman.
Kadang padang ilalang yang membentang, menusuk mata.

Langkah mereka semakin berat.
Bekal air minum pun hanya tersisa untuk kedua bocahnya.
Tapi mata air tak juga terlihat.
Penduduk pun tidak ada.

Hingga di kejauhan… tampak rumah-rumah kecil di tengah padang ilalang.

Hati Wiah ingin berlari.
Tapi telapak kakinya sudah kaku.
Maklum, mereka hanya mengenakan sandal jepit yang solnya sudah tipis.

Akhirnya mereka sampai.
Ternyata rumah-rumah kecil itu adalah tempat istirahat para pedagang yang melintas.

Wiah merebahkan kedua bocahnya.
Lalu ia ikut berbaring.
Badannya terasa remuk.
Seremuk hatinya yang hanya bisa pasrah.

Air matanya terus meleleh.

BACA JUGA:  Owner Shean Beauty Terima PROFAS AWARD Sebagai Tokoh Wanita Inspiratif

Tiba-tiba Hajuddin bertanya, suaranya kecil:
_”Kenapa Ibu menangis? Ibu juga tidak ingin pergi ya?”_

Wiah cepat-cepat tersenyum.
Ia mengusap kepala anaknya.
_”Anakku… Ibu tidak menangis. Itu keringat Ibu.
Kita kan akan selalu bersama. Ke tempat yang lebih baik.
Di sana Hajuddin dan Adek Wiah bisa sekolah.
Jadi anak cerdas, anak sholeh dan sholehah… iya kan Nak?”_
Sambil memeluk kedua bocahnya dengan cinta setinggi langit.

SUMUR DI BAWAH POHON RINDANG

Wiah bangkit.
Matanya menyapu sekeliling. Berharap ada sumur.
Setidaknya untuk berwudhu. Untuk minum.

Dan benar… di kejauhan ia melihat pohon besar yang rindang.

Dalam hati ia bergumam: _”Sepertinya di situ ada sumur.”_

Ia izin pada suami dan kedua anaknya.
Lalu berjalan ke arah pohon itu.

Dan ternyata benar.
Di samping pohon itu ada sumur.
Wiah menoleh ke sekeliling. Mencari.
Dan alhamdulillah… ada timba.

Dengan tangan gemetar dan hati haru, ia menurunkan timba itu.
_”Ya Allah… masih ada air.
Untuk wudhu. Untuk makan siang kami.
Untuk bekal sampai di tujuan.”_

BACA JUGA:  Dari Diskusi Budaya Membaca Membaca Budaya: Perlu Ada Ideologi & Mitos Baru dalam Kebudayaan

Setelah shalat Dhuhur dan Ashar yang dijamak,
mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Walau panas semakin terik.
Walau tubuh semakin letih.

Pak Guru Ullah terus memberi semangat:
_”Kita harus sampai di kampung itu sebelum Magrib, Wiah.”_

BATAS KAMPUNG DAN DOA.

Dengan lelah yang ditahan, akhirnya mereka sampai.
Di batas kampung yang akan mereka tuju.

Matahari sore kuning keemasan menyambut mereka.
Seakan berbisik: _”Selamat datang.
Semoga harapanmu di sini terwujud.”_

brbr
brbr
br