Subarman Salim, yang pernah tiga kali memperoleh hibah penulisan historiografi dari Kemendikbudristek RI, mengajak peserta agar lebih berani mengekspresikan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan bahasa ibu.
Sebab, menurutnya, bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi. Baginya, bahasa merupakan alat identifikasi, penanda “status”, “orientasi”, dan “kepentingan”.
“Bahasa ibu, mencakup bahasa lisan yang pertama dikenal dan dikuasai, adalah sistem pertahanan-perlawanan, terhadap bahasa yang dominan,” terangnya.
Dikemukakan, bahasa atau sistem bahasa, termasuk struktur logika bahasa, merupakan bagian dari identitas sebuah komunitas.
Karena itu, dalam pandanganya, penaklukan (kolonialisme) selalu disertai dengan “penaklukan” bahasa pula.
*Lakkang Sebagai Laboratorium Sejarah*
Sebagai pemateri ketiga, saya pun mengingatkan peserta sebagai warga Lakkang untuk mengambil peran dan tanggung jawab. Salah satunya bisa melalui aktivitas menulis, untuk kegiatan edukasi, literasi, juga advokasi.
Ini bagian dari literasi budaya dan kewargaan. Setiap orang, sebagai warga negara, berhak berpartisipasi dan bersuara melalui medium tulisan.
Saya menekankan pentingnya observasi. Ketika menulis kampung sendiri dalam bentuk reportase ataupun esai, observasi tetap menjadi hal yang penting.
Saya meminta peserta menggunakan semua indra, mendengarkan cerita dan kisah-kisah (unik, ikonik, spesifik, dan monumental), juga menandai tempat-tempat yang dianggap bersejarah, atau keramat.
“Coba ingat-ingat lagi cerita nenek, mitos, atau pappasang yang pernah disampaikan. Temui dan ajak ngobrol tokoh-tokoh kunci, antara lain pelaku sejarah, saksi mata, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Bisa jadi, pengalaman masa kanak-kanak banyak menyimpan materi tulisan yang menarik dibagikan,” kata saya.
Di Lakkang, berdasarkan pengalaman saya memasuki kampung ini pertama kali pada bulan Maret 2011, ada banyak materi yang bisa ditulis.
Sungai, pohon nipah, pohon bambu, kuliner pallu unti-unti, rupabumi/toponimi sejarah penamaan Lakkang, kearifan lokal tentang bonang dan konda, bunker peninggalan tentara Jepang, dermaga, moda transportasi jolloro dan pincara, semuanya merupakan ide tulisan yang menarik.
Peserta yang dominan merupakan Gen Z, memberi informasi bahwa ada tempat di Lakkang yang disebut Lakkang Caddi, lokasinya dekat Pampang. Lokasi ini bagai hidden gem yang menantang untuk dijelajahi, juga tentu saja untuk ditulis oleh warga sendiri.
Perubahan-perubahan yang terjadi di pulau yang berada di belakang Kampus Unhas ini, merupakan laboratorium sejarah yang perlu diberi catatan kritis-reflektif, sekaligus tawaran solusi dari sudut pandang warga, guna memperkuat entitas dan identitas mereka sebagai orang Lakkang. (*)










