Ajoeba Wartabone, Pejuang yang Terlupakan

acara bedah buku “Ajoeba Wartabone (1894-1957) SEKALI KE DJOKJA TETAP KE DJOKJA” yang diadakan di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (16/6/2026).
Acara bedah buku “Ajoeba Wartabone (1894-1957) SEKALI KE DJOKJA TETAP KE DJOKJA” yang diadakan di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (16/6/2026).

Ketika menjabat Gubernur Gorontalo dua periode 2001-2009, ada sejumlah pihak yang menyampaikan pentingnya mendorong nama para pejuang asal Gorontalo yang memiliki andil pada pergerakan Indonesia yang lebih dikenal secara nasional. Ada dua nama yang cukup menggelitik ketika itu, yakni Ajoeba Wartabone dan Nani Wartabone, kakak beradik yang perjuangannya begitu heroik pada periode prakemerdekaan dan pascakemerdekaan.

Nani Wartabone salah satu tokoh Gorontalo yang cukup dekat dengan Bung Karno dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari timur. Dia bahkan lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo pada tanggal 13 Januari 1942. Setelah wafat, dia kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional 6 November 2003, ketika Fadel Muhammad menjabat Gubernur Gorontalo.

Akan halnya Ajoeba Wartabone, sang kakak, kurang begitu dikenal perjuangannya, padahal jasanya besar. Basri Amin menulis buku ini didukung data dari Arsip Nasional dan keluarga Ajoeba Wartabone (Roeland Niode, Mochtar Niode, dan Pulu Niode — yang kemudian mensponsori acara bedah buku ini di Hotel Aryaduta Makassar). Penelusuran data yang dilakukan Basri Amin melewati batas negara, yakni di “National Archief” Den Haag, Belanda.

BACA JUGA:  Austria Gagal Raih Juara Dunia Indoor Hockey di Dua Final

Buku setebal 435 halaman ini ditulis oleh Basri Amin yang merupakan peneliti utama Pusat Studi Dokumentasi (PSD) J.B.Jassin dan Ketua Bidang Kajian Budaya dan Sumber Daya Manusia pada Dewan Riset Daerah Provinsi Gorontalo. Sejak 2013 dia aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Basri Amin mendalami antropologi sosial dan sosiologi pembangunan di Universitas Leiden Belanda, belajar di University of Hawaii at Manoa, Amerika Serikat, menjadi ‘fellow’ di East Weste Centre Honolulu, studi lanjutan ‘leadership for Social Justice; di Universitas Birmingham, Inggris.

Ia meraih sarjana sosial di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, kemudian berkontribusi ilmiah di Pusat Studi Korea, Southeast Asian Studies di University of Malaya Malaysia, CSEAS-Kyoto University, Japan, AUPF-2014 di Thailand, mengikuti pendidikan di University of California, Berkley dan Asia Research Institute (ARI) di National University of Singapore, dan menjadi pengajar di tamu di Institute for Orientalissche und Ostasiatische Philogien Goethe University Frankfurt, Jerman.

Basri Amin juga menulis sejumlah buku dan artikel yang dimuat di berbagai media cetak. Karya akademiknya dipublikasikan oleh ‘The Asia Pacific Journal of Anthropology (TAPJA) The Australian National University Canberra, Australia.