Terdapat tiga bentuk kepentingan yang menjadi tema perdebatan dalam sidang parlemen NIT. Pertama, kelompok yang menginginkan bentuk negara Republik Indonesia seperti yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedua, kelompok yang menolak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan berharap kekuatan Belanda bisa tetap eksis di Nederlands Hindia atau Indonesia. Ketiga, kelompok yang menjadi pilihan Ajoeba Wartabone, “yang menerima pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS)/Negara Indonesia Serikat (NIS) dan menerima NIT sebagai media/jalan menuju NKRI”.
“Teriakan Ajoeba dalam sidang parlemen ini menjadi sebuah pernyataan politik yang sangat tegas dan mempertegas kemauan politik mayoritas di NIT, untuk bergabung dengan Republik Indonesia dan memilih NKRI sebagai bentuk negara yang akan dicapai,” Mukhlis PaEni menegaskan.
Teriakan Ajoeba Wartabone bukan tanpa godaan dan risiko. Banyak tawaran bermunculan dia terima agar membatalkan dan tidak mewujudkan teriakannya. Ia seakan berada di dalam kepungan politik kelompok federalis dan “kaki tangan” Belanda yang ketika itu masih memegang kekuasaan secara politis di luar Jawa dan Sumatra.
Teriakan “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” merupakan ledakan keputusan politik Ajoeba tentang konsep keindonesiaan dan kebangsaan. Tentang bentuk kenegaraan, kemerdekaan, kerakyatan, kebebasan dan persamaan hak dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.
Prinsip dan idealisme ini benang merahnya hampir tidak pernah putus dalam pikiran dan hati nurani Ajoeba Wartabone sejak tahun 1920-an. Keteguhan prinsip yang konsisten dipegang Ajoeba ini memberi arti penting bagi kelangsungan sidang-sidang Parlemen NIT selanjutnya. Sejak itulah nama Ajoeba Wartabone menjadi pembicaraan di Parlemen NIT.
Ketua Dewan Nasional di Gorontalo
Ajoeba Wartabone lahir di Gorontalo 11 JUni 1894, putra pasangan Zakaria Wartabone-Tolangohula Kaluku. Antara 1903-1914, dia menjalani pendidikan ‘Europeesche Lagere School’ (ELS) – sekolah dasar pada masa Hindia Belanda, di Gorontalo dan ‘Hoofdenschool’ atau “sekolah raja” — sekolah khusus yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1878 untuk mendidik anak-anak kaum bangsawan atau pribumi agar bisa menjadi calon pegawai pemerintah, di Tondano.
Selama setahun (1920-1921) Ajoeba menjadi penulis pada satu surat kabar ‘Tjahaja Siang’ (Amurang/Manado) dengan redaktur H.W.Soemolang dan A.A. Maramis.
Ajoeba pada tahun 1921-1924 menjabat ‘Marsaoleh’ — jabatan atau gelar setingkat camat dalam struktur pemerintahan tradisional — Limboto. Antara tahun 1924-1926 Ajoeba mengikuti Pendidikan ‘Bestuurschool’ (sekolah asrama atau institusi pendidikan kepegawaian pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang) di Batavia.













