Lalu, antara 1932-1933, Ajoeba menjabat Redaktur bulanan Pertimbangan (Manado) bersama Mr. Soenarjo, Mr. Iskaq Tjokrohadisoerdjo, G.R.Pantouw, A.Durand, dan G.E. Dauhan. Menjadi ‘Jogugu’ (sejenis jabatan) di Limboto (193401946) dan menjadi Ketua Dewan Nasional Gorontalo (1945-1946). Dia menghadiri Konferensi NIT di Denpasar pada (7-24 Desember) 1946 sebagai lanjutan Konferensi Malino yang berlangsung 16 s.d.25 Juli 1946. Pada tahun 1947-1949 Ajoeba menjadi anggota Fraksi Progresif/Parlemen NIT. Pada masa inilah dia memekikkan pesan bersejarah “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” dalam Pemandangan Umum Parlemen NIT. Dia kembali menjabat Ketua Dewan Nasional Gorontalo (4 November 1947) dan 16 Februari -16 Maret 1948 ‘Goodwill Missie’ Parlemen NIT di Djokjakarta, Jakarta, dan Jawa Timur. Masih pada tahun 1948, Ajoeba bertemu Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para pemuka Republik di Djokjakarta.
Saat kembali ke Gorontalo, antara tahun 1949-1950 Ajoeba menjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara kemudian menjabat Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado (1950-1951). Dia juga menjadi anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR), kemudian menjadi Calon Gubernur Sulawesi pada tahun 1956 yang kemudian terpilih dan dijabat oleh Lanto Daeng Pasewang dan dilanjutkan oleh Andi Pangerang Petta Rani (1945-1960) dengan ibu kota di Makassar.
Ajoeba Wartabone wafat bertepatan bulan Ramadan pada tanggal 26 April 1957. Dia dikebumikan di lokasi dan diapit makam Zakaria Wartabone, ayahnya dan sang Kakek Nuku Wartabone di belakang Masjid Besar Suwawa Desa Bubeya, Bone Bolango, Gorontal0. Dia dianugerahi gelar adat “Ta lo’o Layi a’ Lipu (putra terbaik yang menjadikan Negeri Gorontalo lebih menonjol dan dikenal luas). Berita duka kepergian Ajoeba Wartabone dimuat di surat kabar ‘Java Bode’ edisi 30 April 1957.. ‘De Java Bode’ yang terbit pertama 11 Agustus 1952 adalah surat kabar berbahasa Belanda yang diterbitkan di Batavia (Jakarta sekarang). Koran yang namanya bermakna “Utusan Jawa” ini, menjadi media yang sangat berpengaruh hingga berhenti beroperasi pada Maret 1957. Namun masih sempat memuat berita duka kepergian Ajoeba Wartabone.
Dilupakan
Prof.Dr.Ir. Fadel Muhammad, Wakil Ketua MPR RI 2019-2024 menyebutkan dalam pengantar buku yang sudah tiga kali dicetak (Agustus 2025, April dan Mei 2026) ini, Gorontalo memiliki banyak pejuang nasional. Selain yang banyak dikenal, pun banyak pula yang terlupakan karena kurangnya penelusuran terhadap perjuangan mereka bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.













