“Ini Ajoeba Wartabone, Opa saya, berdiri bersama para tokoh Republik,” ujar Roeland Niode, yang merupakan cucu pertama dengan nada bangga, tetapi tak bermaksud jemawa.
Di akhir kunjungan, rombongan Goodwill Missie Parlemen NIT diantar oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain, pada ahad, 29 Februari 1948, di lapangan terbang Maguwo, Djokjakarta. Ajoeba Wartabone beriringan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tepat di sebelah beliau. Ia dengan tas hitam, mengenakan jas berdasi lengkap dengan topi pith helmet (dalam Bahasa Belanda disebut kurken helm atau tropenhelm), yang jadi ciri khasnya.
Seri foto NIT, memperlihatkan Presiden NIT, Tjokorda Gde Raka Soekawati, tengah menyampaikan pidatonya di Lapangan Taruna, Kota Gorontalo, pada 24 April 1948. Soekawati berpidato di atas podium yang terbuat dari bambu, dan diberi hiasan janur. Keterangan foto menyebutkan bahwa rumah yang tampak di belakang merupakan kediaman keluarga Suus Niode Wartabone, putri Ajoeba Wartabone.
Kepala Pemerintahan
Tampak pula foto yang memperlihatkan Ajoeba Wartabone tengah menyampaikan sambutan dalam acara pengukuhannya sebagai Kepala Daerah /Dewan Pemerintahan Sulawesi Utara, yang meliputi wilayah Gorontalo, Buol, dan Bolaang Mongondow. Foto yang bersumber dari Surat Kabar Pelita, Tomohon, bertanggal 8 November 1949.
Foto-foto yang lebih personal menampilkan Ajoebe Wartabone duduk di kursi menggendong cucu pertamanya, Roeland Niode, pada tahun 1950. Berdiri tepat di belakangnya Ade Olii, Taki Niode, dan Suus Niode Wartabone. Drs. H. Taki Niode nanti kita kenal sebagai Wali Kota Gorontalo ke-2, menjabat pada periode 1963-1971.
Ada pula foto Ajoebe Wartabone bersama kedua cucunya, Roeland Niode, dan Mochtar Niode, pada tahun 1955 di Gorontalo. Mochtar berdiri di atas meja rotan berbentuk bundar, sementara Roelan berdiri di sampingnya. Amanda Katili, istri dari Mochtar Niode, ketika melihat foto ini mengatakan, meja itu masih ada sampai sekarang.
“Ini foto suami saya, saat masih kecil bersama Opanya,” kata Amanda Katili, ditemani suaminya, Mochtar Niode, yang terlihat semringah hari itu.
Amanda Katili lalu mengajak suaminya foto bersama dengan backdrop bertema vintage warna coklat sepia lengkap dengan properti jadulnya berupa mesin tik, telepon, kipas angin, radio, dan rak buku, dan topi pith helmet. Di backdrop terpampang foto Ajoeba Wartabone dalam ukuran besar. Terdapat tulisan SUARA REVOLUSI DARI TIMUR, Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja “Eens naar Djokja, altijd naar Djokja”, Ajoeba Wartabone (1894-1957). Suasana ini seolah menghidupkan spirit Ajoeba Wartabone yang nilai-nilai perjuangan dan pemikirannya masih tetap relevan hingga kini. (*)













