Ada foto yang bersumber dari Nationaal Archief – Den Haag, The Netherlands, dan ada pula yang bersumber dari W.A. van Goudoever (1947), Denpasar: Bouwt Een Huis (Batavia: RVD). Juga ada yang sumbernya dari dokumen “Presiden Kita P.J.M. Tjokorde Gde Rake Soekawati dari Poelaoe ke Poelaoe di NIT” (1948), serta dari Perpustakaan Nasional RI, dan Arsip Nasional RI. Foto-foto lainnya bersumber dari Surat Kabar Pelita Tomohon, 8 November 1949, koleksi keluarga dan beranda Museum Sejarah Gorontalo, serta foto keluarga Wartabone-Kaluku.
Sebuah foto, misalnya, memperlihatkan Ajoeba Wartabone dalam posisi berdiri bersama istrinya, Maroehoela Kaluku, dan putri kecilnya, Suus Wartabone, yang dipangku pamannya Mohammad Wartabone di Batavia, tahun 1923-1924. Lokasi foto di depan rumahnya ini sekarang dikenal sebagai Jalan K.H. Wahid Hasyim, Jakarta. Foto Ajoeba Wartabone bersama dengan teman-teman sependidikannya di Bestuursschool, sekolah pemerintahan, di Batavia, tahun 1924. Dalam foto yang merupakan koleksi keluarga itu, terlihat Maroehoela Kaluku (istri) dan Suus Wartabone (anak).
Pada foto-foto lain, tampak para Jogugu di wilayah Gorontalo, tahun 1930-an, dengan pakaian adat mereka. Di foto koleksi Museum Sejarah Gorontalo itu, tampak Ismail Usman (Suwawa), Rais Monoarfa (Gorontalo), Ajoeba Wartabone (Limboto), dan K. Datau (Kwandang). Foto berikutnya, tampak Ajoeba Wartabone dengan berpakaian adat lengkap sebagai Jogugu Limboto bersama jajaran pejabat pemerintahan (Taudaa) di wilayah Limboto.
Foto-foto lain memperlihatkan aktivitas Ajoeba Wartabone selama masa NIT. Terdapat foto yang memperlihatkan suasana Konferensi Denpasar, dan pembahasan materi konferensi oleh setiap delegasi. Tampak delegasi duduk saling berhadapan. Meja mereka disatukan dan diberi taplak. Dalam foto itu, ada dua nama delegasi yang terlihat jelas, yakni Maloekoe Selatan, dan Timor. Para delegasi Konferensi Denpasar mengadakan sesi foro bersama di depan Hotel Bali, Desember 1946.
Ajoeba Wartabone merupakan salah seorang delegasi. Di Parlemen NIT, ia tergabung dalam Fraksi Progresif. Sebagai anggota parlemen, ia konsisten dengan semangat nasionalisme. Sikapnya sebagai republikein tulen tergambarkan dalam ungkapan yang tegas: “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja”. Kata-kata lantang itu disampaikan pada hari pertama pemandangan umum di Parlemen NIT, pada tanggal 29 April 1947 di Makassar, yang merupakan ibu kota Negara Indonesia Timur.
Delegasi Goodwill Missie
Perjalanan politik Ajoeba Wartabone terlihat saat ia menjadi bagian dari delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT di Djokjakarta dan Djakarta. Tampak sebuah foto di mana Ajoeba Wartabone memegang topinya berdiri paling kanan sesaat setelah tiba di bandar udara Kemajoran, DJakarta, Senin, 16 Februari 1948. Foto lain tentang Ajoeba Wartabone yang keluar dan turun dari pesawat membawa tas khusus yang bertuliskan “Goodwill Missie” dan nama lengkapnya juga ada pada tas itu.













