Ziarah Jejak Kata

Pernyataan itu mengalir seirama dengan apa yang pernah saya dengar langsung dari Yudhistira Sukatanya, dalam sebuah pertemuan buka puasa bersama yang saat itu saya duduk disampingnya sehingga radar telinga sangat jelas menangkap dan merekamnya yaitu bahwa _”menulis sejarah adalah menyajikan data; sedangkan menulis fiksi adalah menyajikan rasa dari sebuah pengalaman”_ katanya. Maka Garvaise menulis sejarah Makassar bukan dengan imajinasi, tapi dengan pengamatan. Ia menangkap denyut nadi kehidupan orang-orang Makassar di abad yang lalu, dan memberikannya kepada kita sebagai warisan pengetahuan yang harus dijaga.

Dan di akhir diskusi, terucap satu kalimat yang menggugah dari Prof. Mardi :
*”Apakah tikus berani memberi kalung ke leher kucing?”*
Sebuah pertanyaan sederhana, namun di dalamnya terkandung kearifan. Ia menyiratkan tentang keberanian, tentang siapa yang bicara, siapa yang berkuasa, dan siapa yang menuliskan sejarah. Dalam konteks diskusi ini, mungkin pertanyaan itu mengingatkan kita bahwa tidak semua suara berani bersuara; tidak semua kebenaran berani ditulis. Dan sejarah, kadang lahir dari ketakutan untuk menantang penguasa, dari keraguan untuk menulis yang benar.

BACA JUGA:  Jembatan Etika Dekolonial Glokal Solusi Problem Media Baru

Namun buku ini, terjemahan karya asing yang merekam Makassar dengan kejujuran antropologis, adalah pengecualian. Ia menjadi lensa dari luar untuk melihat diri kita di dalam. Dan tugas kita sekarang adalah menjawabnya; _*bukan hanya dengan membaca, tapi dengan menulis sejarah kita sendiri dengan keberanian, dengan kearifan, dan dengan cinta pada tanah tempat kita berpijak.”_ Pungkas Prof. Mardi guru besar filsafat bahasa unhas itu saat menutup diskusi tersebut.

”Berbagi itu asyik dan menyenangkan”_

By Humilis Rahman Rumaday
Kamis, 17 April 2025 I pukul : 03.30 dinihari

#BerbagiItuCinta #BerbagiItuPeduli #AyoBerbagi #AyoGabungK_apel #KampusLorong