Di pasar Solo, seorang ibu penjual sayur berbisik: “Harga beras naik, pembeli makin sepi.”
Di warung kopi Makassar, seorang tukang ojol berkata lirih: “Order sedikit, cicilan jalan terus.”
Kritik terhadap Sri Mulyani berubah menjadi desakan: rakyat butuh pertumbuhan, bukan sekadar penjagaan defisit.
-000-
Agustus–September 2025 menjadi catatan kelam. Di 107 titik, tersebar di 32 provinsi, massa turun ke jalan.
Teriakan protes bercampur asap ban terbakar. Gedung DPRD dijarah, sebagian hangus dilalap api.
Kerugian material ditaksir Rp1,2 triliun. Sepuluh jiwa melayang, lebih dari tiga ribu orang diamankan.
Di balik amarah itu, denyut kegelisahan ekonomi jelas terdengar. Pajak makin ekspansif, biaya hidup menekan, nafkah tak sebanding dengan kewajiban yang dipungut.
Rumah Sri Mulyani pun dijarah—simbol bahwa publik melihat wajah fiskal sebagai cermin kecemasan sehari-hari.
Namun protes ini bukan sekadar ledakan spontan. Ia adalah gema dari rasa lapar dan rasa takut.
Dari Medan hingga Makassar, dari sawah Jawa Tengah hingga tambang Papua, rakyat bergetar dengan satu nada: stabilitas tak lagi cukup. Yang dituntut adalah pertumbuhan yang nyata di meja makan.
Sejarah selalu menunjukkan: ketika ekonomi goyah, legitimasi ikut retak. Di sinilah pentingnya komando baru ekonomi.
-000-
Presiden menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom dan mantan Ketua LPS, sebagai Menteri Keuangan.
Ia datang dengan aura pragmatis, penuh optimisme. “Pertumbuhan 8% bukan mustahil,” tegasnya.
Ucapannya bagai tam-tam perang yang memanggil semangat baru: keberanian mengejar laju, bukan hanya menjaga keseimbangan.
Apakah ia sanggup? Publik menunggu.
Jika Sri Mulyani adalah jangkar yang menjaga kapal agar tidak hanyut, maka Purbaya dituntut menjadi layar yang berani menantang angin.
-000-
Dalam mencari arah baru, kita tak bisa berjalan tanpa pelajaran sejarah.
Sebagaimana ditulis Carmen M. Reinhart dan Kenneth S. Rogoff dalam This Time is Different: Eight Centuries of Financial Folly (2009), krisis ekonomi bukanlah anomali.
Ia siklus yang berulang: euforia utang, keyakinan bahwa “kali ini berbeda,” lalu kejatuhan yang menghantam rakyat jelata lebih dulu.
Namun, di balik catatan pahit itu terselip pelajaran tentang daya tahan.
Pertumbuhan di masa sulit tidak lahir dari sihir kebijakan singkat, melainkan dari disiplin fiskal, restrukturisasi utang, dan keberanian menghidupkan kembali kepercayaan publik.
Satu formula sederhana mengingatkan kita:
Pertumbuhan Ekonomi (Y) = Konsumsi (C) + Investasi (I) + Belanja Pemerintah (G) + Ekspor Bersih (X–M).













