Sejarah selalu menunjukkan: ketika ekonomi goyah, legitimasi ikut retak. Di sinilah pentingnya komando baru ekonomi.
-000-
Presiden menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom dan mantan Ketua LPS, sebagai Menteri Keuangan.
Ia datang dengan aura pragmatis, penuh optimisme. “Pertumbuhan 8% bukan mustahil,” tegasnya.
Ucapannya bagai tam-tam perang yang memanggil semangat baru: keberanian mengejar laju, bukan hanya menjaga keseimbangan.
Apakah ia sanggup? Publik menunggu.
Jika Sri Mulyani adalah jangkar yang menjaga kapal agar tidak hanyut, maka Purbaya dituntut menjadi layar yang berani menantang angin.
-000-
Dalam mencari arah baru, kita tak bisa berjalan tanpa pelajaran sejarah.
Sebagaimana ditulis Carmen M. Reinhart dan Kenneth S. Rogoff dalam This Time is Different: Eight Centuries of Financial Folly (2009), krisis ekonomi bukanlah anomali.
Ia siklus yang berulang: euforia utang, keyakinan bahwa “kali ini berbeda,” lalu kejatuhan yang menghantam rakyat jelata lebih dulu.
Namun, di balik catatan pahit itu terselip pelajaran tentang daya tahan.
Pertumbuhan di masa sulit tidak lahir dari sihir kebijakan singkat, melainkan dari disiplin fiskal, restrukturisasi utang, dan keberanian menghidupkan kembali kepercayaan publik.
Satu formula sederhana mengingatkan kita:
Pertumbuhan Ekonomi (Y) = Konsumsi (C) + Investasi (I) + Belanja Pemerintah (G) + Ekspor Bersih (X–M).
Artinya, negara perlu menggerakkan konsumsi rakyat kecil lewat bantuan sosial, merangsang investasi dengan kepastian hukum.
Ia menjaga belanja negara yang tepat sasaran, serta memastikan ekspor lebih tinggi daripada impor.
Pesan kontemplatifnya jelas: ekonomi bukan sekadar angka, melainkan psikologi kolektif.
Harapan adalah modal, dan integritas kebijakan adalah bahan bakarnya.
Di sinilah masa depan ekonomi Indonesia ditentukan, bukan hanya oleh sosok menteri. Ia melainkan oleh kolaborasi lintas sektor: pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan rakyat.
Tanpa sinergi, pertumbuhan hanya menjadi slogan, tetapi dengan keberanian kolektif, stabilitas dan akselerasi dapat menyatu menjadi fondasi kemakmuran berkelanjutan.
-000-
Filosofi besar dari pergantian ini sederhana namun dalam: setiap era punya jantungnya sendiri.
Ada masa ketika stabilitas adalah emas, dan Sri Mulyani menjadi penempa emas itu.
Kini tiba masa ketika percepatan adalah kebutuhan, dan Purbaya diminta menjadi motor penggerak.
Maka biarlah kita ucapkan terima kasih tulus untuk Sri Mulyani: simbol disiplin, integritas, dan keberanian teknokrat.
Dan dengan semangat yang sama, kita sambut komando baru ekonomi: Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini membawa mimpi bangsa untuk berlari lebih jauh.
Karena masa depan Indonesia bergantung pada satu hal: keseimbangan antara kebijaksanaan masa lalu dan keberanian masa depan.***
Jakarta, 8 September 2025
REFERENSI
• Reinhart, Carmen M. & Rogoff, Kenneth S. This Time is Different: Eight Centuries of Financial Folly. Princeton University Press, 2009.
• Rodrik, Dani. The Globalization Paradox: Democracy and the Future of the World Economy. W.W. Norton & Company, 2011.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/p/1Ax2VLzDYj/?mibextid=wwXIfr












