Seandainya Lakkang Jadi Laboratorium Wisata Berkelanjutan (2)

Lakkang
Rusdin Tompo di atas Pincara

Rupanya, pedagang yang baik hati ini, tak hanya menyuguhkan makanan dan minuman yang kami pesan, tapi juga memberikan banyak bonus hehehe. Dua piring pisang ijo, pisang Thailand, dan rambutan, disuguhkan kepada kami. Keduanya merupakan warga asli Lakkang. Daeng Harnia mengatakan, dia membuat banyak makanan karena ada anaknya, yang pulang kampung ke Lakkang menjelang Ramadhan untuk berziarah kubur.

Saya lalu bercerita, pada bulan Maret 2011, pertama kali saya ke Lakkang. Saat itu, dilakukan penggalian bunker peninggalan tentara Jepang, oleh gabungan personel Lantamal VI, Koramil Tallo, dan warga Lakkang. Gotong royong dan kerja bakti ini dilakukan atas inisiatif teman-teman jurnalis yang tergabung dalam Lingkar Penulis Pariwisata (LPP) Makassar bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar, dan beberapa korporasi. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Makassar, saat itu, dipimpin oleh Rusmayani Madjid.

Saat itu, saya diajak oleh Hendra Nick Arthur (wartawan Kantor Berita Antara) dan Furqon Majid (wartawan Tribun Timur). Wali Kota Makassar (periode 2004-2009 & 2009-2014), Ilham Arief Sirajuddin, menyaksikan langsung penggalian 7 bunker yang dibangun antara tahun 1944-1945 itu. Bunker-bunker itu berada di bawah tanah, di antara rimbun hutan bambu.

BACA JUGA:  HUT ke-80 TNI: Postur Baru Indonesia Sebagai Middle Power dan Global Swing State

Kepada Daeng Harnia, saya sampaikan, saat itu, kami disuguhkan menu khas Lakkang, berupa ikan masak mirip pallu mara, tapi ikan itu diikat dengan pisang. Perempuan 60-an tahun itu, menyampaikan bahwa masakan yang saya maksud itu adalah pallu unti-unti. Ikannya bisa berupa ikan mujair atau nila. Bisa pula ikan bolu (bandeng). Cara membuatnya sederhana. Ikannya dibungkus pisang (unti) batu lalu diikat. Bumbunya hanya terdiri dari sarre (serai), laja (lengkuas), lasuna kebo (bawang putih) dan lasuna eja (bawang merah).

“Saya punya di dapur, tapi tidak enak mi kalau dimakan. Dingin mi. Saya kasi liatkan meki saja di,” kata Daeng Harnia, sambil buru-buru melangkahkan kakinya masuk ke rumahnya.

Istri saya yang hobi memasak, begitu antusias, setelah tuan rumah memperlihatkan pallu unti-unti sebagai contohnya. Ikannya agak kecil, kata Daeng Harnia, sehingga tidak terlalu bagus kalau disuguhkan buat tamu. Istri saya mengucapkan terima kasih kepada Daeng Harnia, lalu menatap saya sambil menganggukkan kepala. Seolah berkata enteng, boleh dicoba nanti. Hmmm….

BACA JUGA:  Nasrul dan Hikayat di Balik Buku M Hidayat

Saya juga bercerita, kalau pada bulan Juli 2015, saya kembali ke Lakkang untuk kegiatan Sekolah Media Literasi (Smile) bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD) di sini. Waktu itu, saya diajak teman-teman dari Yayasan Ruang Antara dan Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Unhas. Kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Melek Media. Saya diundang sebagai pemerhati media dan mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan. Saya menjadi narasumber bersama Tenri A. Palallo, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Kota Makassar, dan Evi Aprialty, Kepala Badan Arsip, Perustakaan, dan Pengolahan Data Kota Makassar.

“Lama sekali mi itu, sepuluh tahun yang lalu. Banyak mi yang berubah,” ujar Daeng Harnia.

Dia lalu mengungkapkan berbagai perubahan yang terjadi. Dahulu, belum ada jalan paving block, yang tadi kami lalui. Rumah-rumah panggung (balla rate) warga, juga sudah berganti menjadi rumah batu. Sekarang, lanjutnya, dia tidak lagi harus setiap hari ke Pasar Panampu untuk berbelanja. Hanya sekali atau dua kali dalam seminggu dia keluar Pulau Lakkang. Berkat kemajuann teknologi komunikasi, semuanya serba praktis. Cukup dengan menelepon atau memesan melalui aplikasi, barang yang dibutuhkan segera diantarkan.