Pada kesempatan yang berbahagia ini, dalam momen diskusi buku puisi untuk Palestina, saya merasakan kehadirannya begitu kuat di sekeliling saya seolah saya dibisikkan bahwa syal yang saya pakai ini dalam setiap simpul pada syal ini menjadi pengingat akan perjuangan bangsa Palestina yang terus berlangsung, dan sebuah janji bahwa saya apapun kondisi saya akan terus mendukung rakyat Palestina dalam setiap langkah, dan pikiran saya.
Di tengah ulasan para pembicara yang diundang sebagai pembedah tentang buku Puisi untuk Palestina. Yang berlangsung Lorong Daeng Jakking Pusat Kegiatan Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Penulis Muslim Indenesia (DPP IPMI) bekerja sama dengan Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) SatuPena Sulawesi Selatan, Tapak Suci Parang Tambung. Syal Palestina ini menjadi saksi bisu dari harapan, perjuangan, dan cinta yang terus mengalir dalam diri saya. Saya melihatnya bukan hanya sebagai sehelai benang wol yang terajut begitu indah, tetapi sebagai lambang kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas dengan saudara-saudara kita di Palestina. Dalam momen ini, saya merasakan bahwa Palestina tidak hanya ada di peta dunia, melainkan juga dalam relung hati saya dan peta pikiran saya dan mungkin peta pikiran kita semua yang peduli terhadap kemanusiaan.
“Khairunnas an fa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain) “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” ~ Hadits
Saya menyadari bahwa syal Palestina ini bukan sekadar penanda fisik, melainkan juga sebuah ikatan emosional yang menghubungkan saya dengan perjuangan rakyat Palestina. Walaupun jasad Almarhumah telah kembali ke tanah, semangatnya yang tulus dan cintanya yang mendalam masih terus mengalir melalui setiap serat benang syal ini. saya berjanji untuk terus memaknai perjuangan ini dengan tindakan nyata, sehingga warisan cinta dan solidaritas ini dapat terus hidup dalam diri saya dan generasi berikutnya hingga Palestina merdeka dari penjajah yang tidak berprikemanusiaan.
Kafe Baca 25 Maret 2024













