Prof Aswanto, Pemilukada Sulawesi Selatan, dan “Komit Damai”

Azis Paturungi (tengah) Rusdin Tompo (kiri) dan Fadli Andi Nasif (kanan) bicara Pemilukada
Azis Paturungi (tengah) Rusdin Tompo (kiri) dan Fadli Andi Nasif (kanan) bicara Pemilukada

Sesuai agenda kegiatan Seminar dan Deklarasi Pemilukada Damai, diselenggarakan Gedung PWI Sulsel, pada Kamis, 3 Januari 2013. Kegiatan Komit Damai ini merupakan kerja sama dengan Polda Sulawesi Selatan. Kapolda, saat itu, diwakili oleh Wakapolda Sulawesi Selatan, Brigjen Pol Dr Syahrul Mamma. Selain anggota koalisi, ada sejumlah tokoh hadir, antara lain budayawan, Ishak Ngeljaratan, tokoh Tionghoa, Yonggris Lao, Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, Dr Firdaus Muhammad (akademisi UIN Alauddin) dan perwakilan KPU Sulsel. Acara deklarasi yang mendapat pulikasi luas media massa tersebut, diisi dengan orasi kebudayaan, pembacaan puisi, teaterikal, dan penandatanganan Deklarasi Pemilukada Damai. Penandatanganan pada exbanner itu, diawali oleh Brigjen Pol. Syahrul Mamma mewakili aparat penegak hukum, yang diikuti oleh tokoh-tokoh dan perwakilan lembaga.

Komit Damai juga membuat 4 (empat) poin pernyataan sikap. Pertama, menyerukan kepada penyelenggara Pemilu (KPU dan Panwaslu) serta pasangan calon dan Tim Sukses agar senantiasa mengedepankan penyelenggaraan Pemilukada Gubernur Sulsel dengan menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan dan etika berdemokrasi. Kedua, mendorong dan mendukung kinerja maksimal penyelenggara Pemilukada (KPU dan Panwaslu) serta menyerukan kepada penyelenggara Pemilu dalam semua tingkatan, agar senantiasa mengedepankan independensi dan netralitas dalam proses penyelenggaran Pemilukada Gubernur Sulawesi Selatan. Ketiga, menyerukan kepada penyelenggara Pemilu (KPU dan Panwaslu) serta pasangan calon dan Tim Sukses agar senantiasa memberikan pendidikan politik yang baik, santun dan cerdas kepada seluruh komponen masyarakat. Keempat, agar semua komponen masyarakat berkomitmen dengan segala kebanggaan sebagai masyarakat Sulawesi Selatan untuk menjaga perdamaian, saling menghormati serta menghindari konflik dalam prosesi penyelenggaran Pemilukada Gubernur Sulsel.

BACA JUGA:  Kolaborasi 4 Sehat Menuju Masyarakat Berkeadilan dan Berkesetaraan

Kegiatan Komit Damai, tak hanya di Kota Makassar tapi juga merambah ke Kota Parepare. Kami mengadakan kegiatan Seminar Pemilukada Damai di Gedung Islamic Center. Saya dan Pak Fadli Andi Natsif serta beberapa teman mahasiswa hadir dalam kegiatan yang difasilitasi Polres Parepare ini. Dalam perjalanan pulang dari sana, kami singgah ngopi di Kabupaten Pangkep.

Kekhawatiran terjadinya konfik akhirnya terbukti. Usai debat calon Gubernur Sulawesi Selatan di Celebes Convention Center (CCC), pada 10 Januari 2013, yang disiarkan secara langsung oleh stasiun Metro TV, terjadi saling kejar antara pendukung Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang dengan pendukungan Ilham Arief Sirajuddin-Abdul Azis Qahhar Mudzakkar. Bentrok dan aksi pengrusakan posko pemenangan dari kedua pihak mewarnai dinamika demokrasi, dalam penyelenggaraan Pemilukada 2013. Meski peristiwa ini tidak berkepanjangan dan bisa diredam oleh aparat keamanan.

Pemilukada untuk memilih pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, berlangsung pada tanggal 22 Januari 2013. Meski sebagai incumben SYL dan Agus AN bisa melanjutkan pemerintahan mereka untuk periode kedua, lima tahun berikutnya, tapi kerasnya pertarungan sangat terasa. Dari jumlah suara, pasangan Sayang meraih 2.251.407 suara (52,42%), IA memperoleh 1.785.580 suara (41,57%), sedangkan Garuda-Na mendapat 257.973 suara (6,01%). Sementara dari 24 kabupaten/kota, tidak semua Sayang menguasai atau keluar sebagai peraih suara terbanyak. Mereka hanya menang di 14 kabupaten/kota, sedangkan IA unggul di 9 kabupaten/kota. (*)