Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

​Malam itu, rahasia sejarah lain terungkap di meja bundar. Kehadiran Benny di perayaan Setengah Abad LPM Profesi ternyata memegang posisi yang sangat sentral. Dialah sosok maestro di balik identitas visual pers mahasiswa tersebut. Karakter huruf (logotipe) tulisan “PROFESI” yang kokoh dan ikonik, yang digunakan di kop surat, majalah, hingga produk digital mereka sampai hari ini, adalah buah karya dari goresan tangan kreatif Benny Subiantoro setengah abad yang lalu.

​Di meja bundar itu pula, dengan senyum merekah, Benny memperkenalkan wanita paruh baya di sampingnya. “Ini Lilik Adriana,” ujarnya. Gadis Toraja alumni FPIPS UNM angkatan 1980 yang dahulu merupakan mantan pacar Benny, kini telah menjadi belahan jiwa setianya. Menikah pada tahun 1985, bahtera hidup mereka telah dianugerahi empat orang anak dan lima orang cucu.

br

Terdampar di Masalembo, Berlabuh di Makassar

​Sambil menikmati kopi hangat hotel, saya mulai mengorek kisah masa lalu Benny. Bagaimana mungkin seorang pemuda asal Jawa bisa terdampar dan akhirnya “berlabuh” mengakar di Kota Makassar?

BACA JUGA:  Berbincang dengan Kades Kalebentang: SDM RENDAH TAPI SWADAYA MASYARAKAT TINGGI

​Kisah Benny adalah sebuah epik petualangan. Dia merupakan alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta tahun 1974. Pada Desember 1975, dengan dada penuh ambisi muda, Benny memutuskan merantau. Tujuan utamanya sangat jauh: Sydney, Australia. Ia berniat bertolak dari Surabaya menuju Merauke, Papua, menumpang Kapal Motor (KM) Meratus, dengan harapan dari Merauke ia bisa menyeberang menuju tanah Aborigin. Di sana, seorang rekan sesama alumni SSRI Yogyakarta jurusan seni ukir tulang telah menantinya.

​Namun, manusia hanya bisa merajut rencana, sementara takdir memegang guntingnya. Di tengah pelayaran dari Surabaya, badai dan ombak besar di sekitar Perairan Masalembo menghantam KM Meratus hingga menyebabkan kerusakan mesin yang parah. Tepat pada hari Natal, 25 Desember 1975, kapal terpaksa berbelok dan transit untuk berlindung di Pelabuhan Paotere, Ujungpandang (Makassar).

​Sang Kapten Kapal memperkirakan perbaikan mesin memakan waktu sekitar dua hari. Ia menyarankan seluruh penumpang untuk turun menghirup udara daratan. Benny pun melangkah turun membawa ranselnya. Ia berjalan menyusuri pusat Kota Ujungpandang dan memutuskan beristirahat sekaligus bermalam di Panggung Upacara yang ada di Lapangan Karebosi selama dua malam.

BACA JUGA:  Sorot Gebrakan Pj Gubernur Bahtiar Baharuddin

​Ketika dua hari berselang dan Benny kembali ke Pelabuhan Paotere dengan niat melanjutkan mimpi ke Papua, jantungnya berdegup kencang. Harapannya pupus seketika. KM Meratus ternyata telah angkat sauh lebih cepat, berlayar meninggalkan pelabuhan menuju Ambon dan terus ke Papua. Benny tertinggal.

br
brbr