Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

​Sebuah Nama di Balik Rambut Putih

​Baru saja pinggul saya hendak menyentuh kursi, seorang pria dari meja bundar di depan tiba-tiba berdiri. Ia melambaikan tangan ke arah saya dengan ramah.

br

​”Sini saja, Pak, mumpung masih kosong,” ajaknya memecah kesunyian. Belakangan saya ketahui, pria ramah tersebut adalah salah satu mantan Pemimpin Redaksi LPM Profesi .

​Sebelum melangkah mendekat, telinga saya sempat menangkap sayup-sayup percakapan dari meja mereka. Sebuah obrolan yang sarat dengan aroma masa lalu. Mereka sedang bernostalgia, melempar ingatan ke masa-masa jaket almamater masih mengkilap.

​”Saya duduk di sini saja, Pak. Kalau saya gabung, saya bingung nanti. Bapak-bapak kan sedang bernostalgia,” jawab saya menolak halus sembari tetap berdiri kokoh di sudut belakang.

​Namun, penolakan saya justru memicu reaksi lain. Seorang pria berambut putih keperakan yang duduk di samping seorang wanita paruh baya mendadak bangkit dari kursinya. Ia membalikkan badan menghadap saya, bermaksud mempertegas ajakan rekannya agar saya sudi bergabung.

​Begitu tatapan kami bertemu dan wajahnya terlihat utuh, jantung saya seperti melewatkan satu detakan. Memori bawah sadar saya yang terkubur selama puluhan tahun mendadak meledak ke permukaan. Kilatan masa muda di laboratorium seni rupa mendadak berputar laksana proyektor film tua. Tanpa sadar, saya berseru agak keras menyebut sebuah nama.

BACA JUGA:  JOKOWI DAN PRABOWO: - Hubungan Unik dalam Politik Indonesia

​”Benny! Benny Subiantoro!” seru saya setengah tak percaya.

​Pria berambut putih itu mengerutkan kening. Tatapannya kosong, bingung, menyisir setiap inci wajah saya yang kini tentu tak semuda dulu lagi. “Siapa Anda?” tanyanya singkat, menyelidiki.

​”Benny, saya Ardhy! Ardhy Basir!” jawab saya setengah mendesak, menantang kerutan di dahinya agar ingatan lamanya segera kembali bangkit.

​”Astagfirullah!”

​Suara Benny pecah. Detik itu juga, tangan kami bertautan erat, disusul dekapan hangat dua lelaki tua yang saling merangkul. Di tengah riuh rendah persiapan ruang VIP hotel berbintang, dua pasang mata kami berkaca-kaca. Tepat setelah 50 tahun berpisah tanpa kabar, kami dipertemukan kembali. Saya akhirnya tersadar, firasat kuat yang terus memanggil-manggil saya untuk membuka-tutup undangan Ratna Wulandari sore tadi, ternyata adalah magnet takdir yang ingin menuntun saya ke pelukan sahabat lama ini.

Saksi Bisu Meja Laboratorium Seni

​Kami berdua kemudian larut dalam pusaran kenangan. Di masa kuliah tahun 1970-an, jika tugas-tugas dari dosen menumpuk dan malam merayap terlalu larut, kami terbiasa merebahkan tubuh dan tidur beralaskan meja kayu di Laboratorium Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang. Tak jarang, jika pikiran saya sedang buntu atau kalut dikejar tenggat waktu pengerjaan karya, Benny-lah penyelamat saya. Tangan dinginnya sering kali membantu menyelesaikan tugas-tugas seni rupa saya hingga tuntas.

br
brbr