Panggilan Setengah Abad: Ketika Takdir Menghentikan Kapal dan Mempertemukan Dua Sahabat

​”Saya duduk di sini saja, Pak. Kalau saya gabung, saya bingung nanti. Bapak-bapak kan sedang bernostalgia,” jawab saya menolak halus sembari tetap berdiri kokoh di sudut belakang.

​Namun, penolakan saya justru memicu reaksi lain. Seorang pria berambut putih keperakan yang duduk di samping seorang wanita paruh baya mendadak bangkit dari kursinya. Ia membalikkan badan menghadap saya, bermaksud mempertegas ajakan rekannya agar saya sudi bergabung.

​Begitu tatapan kami bertemu dan wajahnya terlihat utuh, jantung saya seperti melewatkan satu detakan. Memori bawah sadar saya yang terkubur selama puluhan tahun mendadak meledak ke permukaan. Kilatan masa muda di laboratorium seni rupa mendadak berputar laksana proyektor film tua. Tanpa sadar, saya berseru agak keras menyebut sebuah nama.

​”Benny! Benny Subiantoro!” seru saya setengah tak percaya.

​Pria berambut putih itu mengerutkan kening. Tatapannya kosong, bingung, menyisir setiap inci wajah saya yang kini tentu tak semuda dulu lagi. “Siapa Anda?” tanyanya singkat, menyelidiki.

​”Benny, saya Ardhy! Ardhy Basir!” jawab saya setengah mendesak, menantang kerutan di dahinya agar ingatan lamanya segera kembali bangkit.

BACA JUGA:  Zainal Arifin Paliwang, Alumni Smansa Makassar Kembali jadi Nahkoda di Kaltara

​”Astagfirullah!”

​Suara Benny pecah. Detik itu juga, tangan kami bertautan erat, disusul dekapan hangat dua lelaki tua yang saling merangkul. Di tengah riuh rendah persiapan ruang VIP hotel berbintang, dua pasang mata kami berkaca-kaca. Tepat setelah 50 tahun berpisah tanpa kabar, kami dipertemukan kembali. Saya akhirnya tersadar, firasat kuat yang terus memanggil-manggil saya untuk membuka-tutup undangan Ratna Wulandari sore tadi, ternyata adalah magnet takdir yang ingin menuntun saya ke pelukan sahabat lama ini.

​Saksi Bisu Meja Laboratorium Seni

​Kami berdua kemudian larut dalam pusaran kenangan. Di masa kuliah tahun 1970-an, jika tugas-tugas dari dosen menumpuk dan malam merayap terlalu larut, kami terbiasa merebahkan tubuh dan tidur beralaskan meja kayu di Laboratorium Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang. Tak jarang, jika pikiran saya sedang buntu atau kalut dikejar tenggat waktu pengerjaan karya, Benny-lah penyelamat saya. Tangan dinginnya sering kali membantu menyelesaikan tugas-tugas seni rupa saya hingga tuntas.

​Malam itu, rahasia sejarah lain terungkap di meja bundar. Kehadiran Benny di perayaan Setengah Abad LPM Profesi ternyata memegang posisi yang sangat sentral. Dialah sosok maestro di balik identitas visual pers mahasiswa tersebut. Karakter huruf (logotipe) tulisan “PROFESI” yang kokoh dan ikonik, yang digunakan di kop surat, majalah, hingga produk digital mereka sampai hari ini, adalah buah karya dari goresan tangan kreatif Benny Subiantoro setengah abad yang lalu.

BACA JUGA:  JANJI KAMPANYE YANG MENYULITKAN PEMERINTAHAN BARU

​Di meja bundar itu pula, dengan senyum merekah, Benny memperkenalkan wanita paruh baya di sampingnya. “Ini Lilik Adriana,” ujarnya. Gadis Toraja alumni FPIPS UNM angkatan 1980 yang dahulu merupakan mantan pacar Benny, kini telah menjadi belahan jiwa setianya. Menikah pada tahun 1985, bahtera hidup mereka telah dianugerahi empat orang anak dan lima orang cucu.

​Terdampar di Masalembo, Berlabuh di Makassar

​Sambil menikmati kopi hangat hotel, saya mulai mengorek kisah masa lalu Benny. Bagaimana mungkin seorang pemuda asal Jawa bisa terdampar dan akhirnya “berlabuh” mengakar di Kota Makassar?

​Kisah Benny adalah sebuah epik petualangan. Dia merupakan alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta tahun 1974. Pada Desember 1975, dengan dada penuh ambisi muda, Benny memutuskan merantau. Tujuan utamanya sangat jauh: Sydney, Australia. Ia berniat bertolak dari Surabaya menuju Merauke, Papua, menumpang Kapal Motor (KM) Meratus, dengan harapan dari Merauke ia bisa menyeberang menuju tanah Aborigin. Di sana, seorang rekan sesama alumni SSRI Yogyakarta jurusan seni ukir tulang telah menantinya.