Oleh: Reiner Emyot Ointoe
„Wanu ma moleleyangi/Dila lipata ami/
Detunggu lo patealo/to lipu lo tawuweo…”“Jika hendak merantau/Jangan lupakan kami/
Hingga ajal nanti/di negeri orang pun…” — Penggalan lirik lagu Gorontalo.
Makassar, NusantaraInsight — Denyut paguyuban orang Gorontalo rantau, Lamahu, dipimpin Olongia Lo Lipu, Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad, kini Anggota DPD RI, dalam Rapat Kerja Pengurus Lamahu 2026 di Makassar, 15–17 Juni 2026, menjadi momentum bersejarah.
Betapa tidak, kota Makassar secara historis memiliki similiritas kultural dengan Gorontalo. Bahkan salah satu putra Gorontalo, Ir. Danny Pomantou, pernah menjabat Walikota Makassar.
Selain itu, migrasi budaya antara Makassar dan Gorontalo masih hidup dalam nama-nama tempat dan makanan, seperti kampung Bugis, Tamalate, Bone, dan hidangan kua bugis(konro), yang menjadi penanda lintasan sejarah pertemuan dua etnik.
Dalam kerangka antropologi paguyuban, Lamahu bukan sekadar organisasi sosial, melainkan ekspresi “Heluma Huyula Lohulonthalo” atau ikatan persaudaraan orang Gorontalo di rantau.
Buku Lima Pahalaa(1981) Dr. B.J. Haga menegaskan bahwa “pohalaa adalah fondasi genealogis dan politik masyarakat Gorontalo.”
Menurut Haga, pohalaa sebuah konsep yang kini direvitalisasi dalam bentuk paguyuban modern.
Lamahu, dengan basis ukhuwwah wasyataniah-basyariah, menghidupkan kembali semangat itu di ruang urban kontemporer.
Mengacu Fachry Ali dkk. dalam Gobel, Budaya dan Ekonomi(LP3ES, 1998) menulis bahwa “budaya etnik(Gorontalo) tidak pernah statis, ia selalu mencari ruang baru dalam hal ekonomi dan politik.”
Kalimat ini relevan dengan gerakan Lamahu yang tidak hanya mengurus ritual sosial, tetapi juga membangun jejaring ekonomi diaspora Gorontalo.
Dan kelompok-kelompok diaspora Gorontalo cukup banyak yang dikenal dalam berbagai bidang.
Misal, dalam bahasa dan sastra, ada nama-nama besar DR(HC). Drs. HB. Jassin, Prof. Dr. Yus Badudu, Prof. Mbiyo Saleh dan komponis, A. Dungga.
Di dunia usaha, nama-nama besar, Drs. Thayeb Gobel, Sandiaga Uno, Fadel Muhammad, Suharso Monoarfa hingga yang masuk politik, Zainuddin Amali, Bajeber.
Dari diaspora keturunan, ada Ir. Ciputra, Drs. Apt. Lembong, paman Thomas Lembong, Ir. Ignaitius Jonan dan lainnya.
Tak lupa, DR(HC) Ir. Arie Pedju MSc, founder Encona Group dan Dirjen Geologi, Prof. Dr. J.A. Katili.
Paguyuban Lamahu menjadi wahana untuk mengonsolidasikan identitas sekaligus memperkuat posisi sosial-ekonomi perantau.
Basri Amin dan Hasanuddin dalam Gorontalo: Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial (2012) mengingatkan bahwa “kolonialisme membentuk ruang-ruang baru bagi orang Gorontalo, tetapi juga melahirkan resistensi budaya.”
Lamahu dapat dibaca sebagai kelanjutan resistensi itu, bukan lagi terhadap kolonialisme, melainkan terhadap homogenisasi budaya urban dan lebih-lebih budaya dan geopolitik global.
Dengan menghidupkan bahasa, adat, dan solidaritas, Lamahu menegaskan bahwa identitas Gorontalo tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Selain Raker, Lamahu pusat)Jakarta) menyelenggarakan pengukuhan pengurus Lamahu di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Jawa Barat, dan Papua.
Ekspansi ini menunjukkan bahwa Lamahu bukan sekadar organisasi lokal, melainkan gerakan budaya etnik kontemporer yang menjangkau lintas provinsi.
Ia menjadi “ruang simbolik” di mana orang Gorontalo rantau merajut kembali huyula—gotong royong—sebagai modal sosial.
Membaca antropologi Lamahu dari Makassar berarti memahami bagaimana sebuah paguyuban etnik bertransformasi menjadi gerakan budaya yang melintasi batas geografis.












