Tanpa uang yang cukup, tanpa sanak saudara, dan sebatang kara di kota asing yang sama sekali belum dikenalnya, kecemasan menggelayuti benak Benny. Ia terpaksa melangkah gontai, berjalan kaki kembali menuju Lapangan Karebosi. Di sana, ia melewatkan malam-malam penuh ketidakpastian hingga tanggal 30 Desember 1975, menyaksikan warga kota bersukacita menyambut malam pergantian tahun baru 1975 ke 1976.
Berkah di Balik Ransel Usang
Di tengah kepasrahan pada akhir Desember tersebut, hujan lebat yang mengguyur Kota Ujungpandang mulai mereda. Di bawah keremangan kota, Benny membuka ransel usangnya. Di dalam sebuah map ijazah, ia menemukan selembar kartu nama lama milik seniornya sesama alumni Seni Rupa IKIP Yogyakarta: Bapak Sumardi Priyonggoko, BA dan Ibu Sri Marhen Sakti, BA. Pasangan suami istri tersebut ternyata bertugas sebagai guru di SMA Katolik Jalan Cendrawasih sekaligus dosen Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang.
Seolah mendapat kompas baru, Benny berjalan kaki dari Lapangan Karebosi menuju SMA Katolik di Jalan Cendrawasih. Tepat saat jam berdentang menunjukkan pukul 00.00, di tengah pergantian tahun, Benny berhasil mengetuk pintu rumah Bapak Sumardi. Pertemuan malam itu mengubah total garis hidupnya. Benny dilarang melanjutkan petualangan nekatnya ke Australia.
”Tidak usah lanjut ke Aborigin, kuliah saja di Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Ujungpandang,” kenang Benny menirukan nasihat Ibu Sri Marhen Sakti kala itu.
Benny patuh. Ia mendaftar, lolos ujian, dan resmi menjadi mahasiswa Seni Rupa FKSS IKIP Ujungpandang angkatan 1976—ruang kelas yang sama yang mempertemukannya dengan saya. Jalur akademisnya melesat tajam: meraih gelar Sarjana Muda (1979), menyelesaikan Strata 1 (1984), hingga merengkuh gelar Magister (S2) di Pascasarjana ISI Yogyakarta (2003).
Lelaki yang dahulu terdampar di Karebosi itu menjelma menjadi akademisi tangguh. Sejak tahun 1979, ia mengabdi sebagai laboratorium sekaligus staf pengajar (dosen) di Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM, FIP UNM, Pascasarjana UNM, Universitas Terbuka, Unismuh, Universitas Bosowa, hingga UIN Alauddin Makassar. Mata kuliah teoritis dan praktis dikuasainya secara paripurna, mulai dari Sejarah Seni Rupa Indonesia, Manajemen Pameran, hingga praktikum Sketsa, Seni Patung, Batik, dan Ilustrasi Komik. Setelah mencetak ribuan sarjana, Benny akhirnya memasuki masa purnabakti pada tahun 2019 silam.
Malam makin larut di Ballroom Lotus B, namun kehangatan di meja kami justru kian membara. Kisah kapal rusak di Masalembo setengah abad lalu itu kini terasa seperti skenario suci. Jika malam itu KM Meratus tidak rusak, LPM Profesi mungkin tidak akan pernah memiliki logo ikonik yang bertahan 50 tahun, ratusan mahasiswa Makassar tidak akan pernah mendapat ilmu dari seorang dosen hebat, dan saya, Ardhy M. Basir, tidak akan pernah mencicipi indahnya pelukan persahabatan setengah abad malam ini.

br
br






br
br





