Muhasabah Diri di Tahun Baru Islam

Lazimnya memang, kualitas manusia akan sangat ditentukan oleh kekuatan (quwwah) yang ada pada diri manusia itu sendiri. Menurut Sayyid Kamal Haidari, ada beberapa jenis kekuatan yang membentuk jiwa (nafs) manusia. Pertama, Quwwatun Bahimiyyah atau kekuatan kebinatangan. Unsur inilah yang mendorong seseorang untuk mencari kepuasan lahiriah dan kenikmatan sensual. Kedua, Quwwatun Sab’iyyah atau kekuatan binatang buas. Kekuatan ini yang mewujud saat seseorang senang menyerang orang lain, memakan hak orang, membenci, menghancurkan dan mendengki orang lain. Ketiga, ada juga yang disebut para sufi dengan Quwwatun Syaithaniyyah/wahmiyyah. Yaitu kekuatan yang mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan yang dilakukan. Misalnya, melakukan korupsi. Setan lalu membisikkan kalau ia tidak perlu merasa bersalah, karena itu dilakukan untuk membantu orang lain. Namun, Tuhan juga menetapkan pada diri manusia, percikan cahaya Tuhan yang dinamai Quwwatun Rabbaniyyah atau biasa pula diistilahkan Quwwatun Aqliyyah. Ini adalah bagian penting dari kepribadian manusia, sebab kekuatan ini terletak pada akal sehatnya.

Karena tahun baru Islam terkait dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW, maka sejatinya, saat momentum tersebut tiba, pengikut Rasul suci, mesti melakukan hal yang sama dalam bentuknya yang lain. Dengan potensi kekuatan yang dimiliki, setiap Muslim harus berhijrah dari keburukan kepada kebaikan, dari berbagai hal yang negatif menuju pada yang positif. Jalaluddin Rakhmat dalam Reformasi Sufistik, menukil Al-Ghazali yang menjelaskan tiga gerbang yang mesti dilewati, ketika kita ingin mengaktualkan Islam. Gerbang pertama: apakah yang kita kerjakan itu betul-betul ajaran Islam, berdasarkan Al-Quran dan sunnah? Bila lulus, kita memasuki gerbang kedua: apakah yang akan kita amalkan itu, bermanfaat untuk kita dan kaum Muslim? Dari gerbang kedua, kita harus masuk ke gerbang ketiga dengan pertanyaan: apakah kita sudah menemukan cara terbaik untuk menjalankan amal itu?

BACA JUGA:  SELAMAT JALAN BUNG KAMSUL

Muhammad Abduh pernah mengatakan bahwa seringkali Islam tertutup oleh orang-orang Islam. Lebih tegasnya, keindahan syariat Islam kadangkala tertutup oleh cara orang mengamalkan ajaran Islam. Shalat Anda kurang bermakna, bila tidak dapat mencegah kekejian dan kemungkaran. Haji Anda tak berarti, jika Anda tidak meninggalkan rumah sempit egoisme dalam diri Anda. Bagaimana orang bisa tertarik menegakkan sistem pemerintahan Islam, bila yang tampil sebagai negara Islam adalah gambaran menakutkan tentang Islam.

Padahal, Al-Quran menyebut umat Islam sebagai Khaira Ummah, umat yang terbaik. Rasulullah SAW memberi tuntunan pada kita, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin, maka dia dalam keadaan merugi. Dan siapa yang kondisinya hari ini lebih buruk dari sebelumnya, maka sesungguhnya dia celaka.” Olehnya itu, saat ini adalah waktu yang tepat bagi umat Islam, secara aktif dan progresif melakukan muhasabah diri. Menjalankan perubahan dan perbaikan dengan konsisten. Meningkatkan kualitasnya serta mengambil peran yang lebih nyata, agar dapat memberi pengaruh positif dalam upaya memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk Indonesia tercinta. “Demi Waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

BACA JUGA:  Ketika Sekolah Membuka Pintu, Catatan atas Buku Klinik Inklusi Karya Yeni Rahman

Selamat Tahun Baru Islam 1445 H.

* Pengurus Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA SulSel dan Peneliti pada Ma’REFAT INSTITUTE (Makassar Research for Advance Transformation) Sulawesi Selatan.