Saat itulah, saya pun memanggilnya Prof. Imran, sebagaimana sapaan akrab yang melekat padanya. Kesempatan untuk bertemu dengan seorang guru besar seperti Prof. Imran adalah momen yang sangat berharga. Momen itu pula saya berkesempatan berdiskusi dengan Prof. Imran dan membahas berbagai aspek dunia kampus yang begitu dinamis dan penuh potensi. Pada kesempatan tersebut saya tidak sendiri saya bersama Rusdy Embas, Arwan D Awing keduanya merupakan sahabat dan guru saya dalam berbagai hal terutama dalam mengisi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat yang abadi.
Pada kesempatan itu salah satu topik utama yang saya ajukan kepada Prof. Imran adalah mengenai penelitian yang baik dan benar. Saya ingin mendapatkan wawasan dan pandangan Prof. Imran tentang bagaimana melakukan penelitian yang mendalam, etis, dan memiliki dampak positif bagi masyarakat. Prof. Imran. dengan penuh kesabaran, kelembutan dan pengetahuan yang mendalam menjelaskan kepada kami bertiga berbagai prinsip dan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas.
Pertemuan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman saya tentang dunia akademik, tetapi juga memberikan inspirasi untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi dalam bidang penelitian. Prof. Imran adalah contoh nyata tentang bagaimana seorang akademisi gampang dan tidak berbelit-belit dalam berbagi pengetahuan pada orang seperti saya dan juga dapat menjadi mentor dan pendorong bagi generasi berikutnya. Secara pribadi saya merasa beruntung dan terhormat telah berkesempatan berdiskusi dengannya, dan pengalaman tersebut akan terus membimbing perjalanan akademik saya ke depan.
Saya menyimak dan mencatat setiap kalimat dan pernyataan yang diucapkan oleh Prof. Imran. Pernyataan Prof. Imran. sangat menarik dan berwawasan bagi saya adalah : ia mengatakan bahwa meneliti merupakan suatu proses intelektual yang dimulai dengan logika yang kritis dan radikal. Dalam konteks penelitian, logika kritis mengacu pada kemampuan menganalisis informasi dengan tujuan, mengidentifikasi asumsi yang mendasarinya, dan memahami keyakinan yang ada.
Logika radikal, di sisi lain, mengharuskan peneliti untuk berpikir di luar batas konvensional, menggali solusi yang tidak konvensional, dan menghadapi paradigma yang ada. Kombinasi antara logika kritis dan radikal inilah yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan hipotesis yang kuat, merancang eksperimen yang relevan, dan mencapai pemahaman mendalam tentang topik penelitiannya.
Prof. Imran. Juga mengungkapkan. Selain itu, logika yang kritis dan radikal juga membantu peneliti untuk menghindari bias, tetap terbuka terhadap berbagai sudut pandang, dan menghasilkan kontribusi berharga dalam dunia pengetahuan. Sehingga dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penelitian yang efektif selalu dimulai dari kemampuan logika yang kritis dan radikal.
Masya Allah… maha suci Allah beruntung sekali saya bisa dipertemukan dengan seorang guru besar seperti Prof. Imran. Yang mau berbagi pengetahuannya sama siapa saja bahkan sama saya yang baru dikenal 10 menit yang lalu, ia juga menawarkan pada saya, pak Rusdy Embas, pak Arwan kalau mau nanti ikut saja di kelas yang saya ajar di program Doktor pascasarjana Unhas kata Prof. Imran. Pada kami bertiga. Terima kasih pak Rusdy Embas sudah memperkenalkan saya dengan Prof. Imran.
Pernyataan lain dari Prof. Imran. Adalah “kenapa manusia selalu berpikir? karena ada pertentangan” oleh karena bagian alami dari kehidupan manusia. Pikiran adalah alat yang kuat untuk memahami, memproses, dan merespons berbagai konflik, perubahan, dan tantangan yang dihadapi sepanjang perjalanan hidup. Pikiran manusia muncul sebagai respons terhadap situasi yang memerlukan penyelesaian, pertimbangan, atau adaptasi.












