MENDENGAR JOKOWI DI BOCOR ALUS POLITIK TEMPO

Lokasinya simbolis, National Portrait Gallery. Obama berbicara dekat potret Abraham Lincoln, presiden yang memimpin Amerika ketika persatuan bangsanya sendiri hampir runtuh.

Obama berbicara tentang Trump, George Floyd, polarisasi, keluarganya, demokrasi, serta memoarnya, A Promised Land. Tetapi satu gagasannya terasa paling relevan untuk Jokowi.

Seorang presiden, kata Obama, hanyalah penghuni sementara sebuah jabatan. Ketika waktunya selesai, kepentingan negara harus mengalahkan ego dan kekecewaan pribadi.

Obama bahkan pernah meninggalkan pesan bagi penerusnya bahwa instrumen demokrasi harus diwariskan setidaknya sekuat ketika seorang presiden pertama kali menerimanya.

Di sinilah Obama dan Jokowi bertemu. Keduanya meninggalkan kekuasaan formal dengan pengaruh politik, jaringan, popularitas, dan warisan yang belum selesai diperdebatkan.

Tetapi pilihan mereka berbeda. Obama relatif menjaga jarak dari politik elektoral sehari-hari. Jokowi secara eksplisit menyatakan masih ingin terus aktif dalam kehidupan politik.

Perbedaan itu tidak otomatis membuat satu jalan lebih luhur. Ia justru memperlihatkan bahwa demokrasi menyediakan beragam model kehidupan setelah kekuasaan.

Pertanyaan moralnya sama: bagaimana seorang mantan presiden menggunakan pengaruh tanpa membuat presiden yang sedang berkuasa hidup di bawah bayang-bayang pendahulunya?

BACA JUGA:  Mutiara Anak

-000-

Pertanyaan itu terasa personal bagi saya karena saya pernah membicarakannya langsung dengan Jokowi menjelang akhir masa pemerintahannya. Saya dipanggil datang ke Istana.

Kami berbicara berdua. Salah satu hal yang memenuhi pikiran saya justru bukan masa kekuasaannya, melainkan apa yang akan dilakukannya setelah kekuasaan berakhir.

Saya sampaikan kepadanya bahwa ketika meninggalkan jabatan pada Oktober 2024, Jokowi masih berusia 63 tahun. Itu terlalu muda untuk sekadar menjadi penonton.

Terlebih ia meninggalkan Istana dengan modal sosial yang tidak biasa. Survei nasional LSI Denny JA menjelang akhir pemerintahannya mencatat kepuasan sebesar 80,8 persen.

Survei itu dilakukan pada 26 September sampai 3 Oktober 2024 terhadap 1.200 responden, dengan margin of error sekitar 2,9 persen.

Angka itu penting bukan karena seorang pemimpin harus mengejar popularitas. Popularitas tinggi menjadi berarti apabila kepercayaan tersebut kemudian diubah menjadi manfaat sosial.

Saya mengatakan kepadanya, sayang sekali apabila setelah meninggalkan Istana, modal kepercayaan sebesar itu hanya disimpan sebagai kenangan tentang masa lalu.

BACA JUGA:  Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

Mencapai approval rating sekitar 81 persen setelah sepuluh tahun memerintah bukan perkara mudah. Biasanya kekuasaan panjang justru menghasilkan kelelahan dan kekecewaan.