Survei itu dilakukan pada 26 September sampai 3 Oktober 2024 terhadap 1.200 responden, dengan margin of error sekitar 2,9 persen.
Angka itu penting bukan karena seorang pemimpin harus mengejar popularitas. Popularitas tinggi menjadi berarti apabila kepercayaan tersebut kemudian diubah menjadi manfaat sosial.
Saya mengatakan kepadanya, sayang sekali apabila setelah meninggalkan Istana, modal kepercayaan sebesar itu hanya disimpan sebagai kenangan tentang masa lalu.
Mencapai approval rating sekitar 81 persen setelah sepuluh tahun memerintah bukan perkara mudah. Biasanya kekuasaan panjang justru menghasilkan kelelahan dan kekecewaan.
Karena itu saya ikut menyarankan: carilah bentuk baru. Tidak perlu menjadi kekuasaan kedua. Tidak perlu pula mencampuri pemerintahan penerus.
Tetapi pengalaman, jaringan, kepercayaan publik, dan pengetahuan yang dikumpulkan selama puluhan tahun tetap dapat dikonversi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi Indonesia.
Kini, ketika mendengar Jokowi mengatakan ingin terus berpolitik untuk memberikan kontribusi walaupun “sedikit”, saya teringat kembali percakapan kami di Istana tersebut.
Mungkin pertanyaan terbesar setelah kekuasaan memang bukan bagaimana mempertahankan pengaruh. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah pengaruh menjadi pengabdian tanpa kembali diperbudak kekuasaan.
Tentu apapun jawaban Jokowi dalam wawancara itu, selalu ada pihak yang dapat melihatnya secara kritis. Misalnya, melihat PSI di bawah Kaesang, promosi cepat Gibran, dan pengaruh Jokowi sebagai upaya membangun jejaring dinasti, bukan pengabdian.
Kritik ini tentu tidak dapat diselesaikan dengan bantahan. Ia hanya dapat dijawab oleh pilihan konkret Jokowi berikutnya: apakah pengaruhnya memperbesar politik agar lebih mendekat pada realitas politik rakyat.
-000-
Dua buku membantu saya melihat persoalan ini dengan perspektif lebih panjang.
Buku pertama sangat tepat judulnya: Life After Power: Seven Presidents and Their Search for Purpose Beyond the White House, karya Jared Cohen, Simon & Schuster, 2024.
Cohen mempelajari tujuh mantan presiden Amerika dan menemukan sesuatu yang manusiawi: setelah meninggalkan kekuasaan terbesar, mereka tetap harus menjawab pertanyaan mengenai tujuan hidup berikutnya.
Thomas Jefferson membantu membangun University of Virginia. John Quincy Adams kembali ke Kongres dan menjadi suara penting gerakan antiperbudakan. William Howard Taft menjadi Ketua Mahkamah Agung.
Herbert Hoover menjalankan misi kemanusiaan. Jimmy Carter mengubah status mantan presiden menjadi platform perdamaian dan kemanusiaan. George W. Bush justru menjauh dari politik.
Pesan Cohen sangat relevan bagi Jokowi. Tidak terdapat satu resep tunggal mengenai kehidupan setelah kekuasaan. Yang menentukan adalah tujuan penggunaan sisa pengaruh tersebut.
Mantan presiden bahkan dapat menghasilkan babak kehidupan yang sama bermaknanya dengan masa kekuasaannya, apabila ia menemukan kembali tujuan yang melampaui dirinya sendiri.
-000-
Buku kedua adalah The Presidents Club: Inside the World’s Most Exclusive Fraternity, karya Nancy Gibbs dan Michael Duffy, Simon & Schuster, 2012.
Buku ini membongkar hubungan tersembunyi antara presiden dan para pendahulunya. Mereka bersaing untuk sejarah, tetapi sekaligus memahami beban kekuasaan yang tidak dipahami orang lain.
Harry Truman meminta bantuan Herbert Hoover. John Kennedy mencari nasihat Dwight Eisenhower setelah kegagalan Bay of Pigs. Rivalitas dapat berubah menjadi kerja sama.
George H.W. Bush dan Bill Clinton bahkan kemudian bekerja bersama menggalang bantuan kemanusiaan. Mantan rival dapat menemukan persaudaraan setelah kompetisi politik selesai.












