Ia mengatakannya tanpa berputar-putar. Jokowi akan terus berpolitik. Alasannya, ia masih ingin memberikan kontribusi, meskipun menurut istilahnya sendiri hanya “sedikit”.
Kata “sedikit” itu menarik perhatian saya. Sebab kontribusi mantan presiden hampir tidak pernah benar-benar sedikit. Satu kalimatnya saja dapat menjadi berita nasional.
Jokowi kini memilih PSI sebagai salah satu ruang pengabdian. Ia ingin membantu partai itu berkembang, membangun struktur, memperbesar pengenalan, dan menembus parlemen.
Ia bahkan berbicara dengan bahasa seorang peneliti survei. Pengenalan partai dihitung. Pengenalan logo dihitung. Perjalanan daerah juga akan diukur efek elektoralnya.
Tetapi di balik kalkulasi itu terdapat pertanyaan lebih filosofis: apakah berakhirnya jabatan harus berarti berakhirnya kemampuan seseorang untuk berbuat bagi negaranya?
Jawaban Jokowi tampaknya tidak. Kekuasaan mempunyai tanggal kedaluwarsa. Pengabdian tidak harus memilikinya. Seseorang dapat kehilangan jabatan tanpa kehilangan alasan untuk bekerja.
Namun ada syarat moral penting. Pengaruh seorang mantan presiden seharusnya memperkuat demokrasi, bukan menciptakan pusat kekuasaan tandingan terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.
-000-
Ketiga, terhadap Prabowo, Jokowi memilih mendukung sambil menjaga jarak.
Jokowi menyebut hubungan mereka “baik-baik saja”. Namun ia juga mengakui bahwa keduanya sudah lama tidak melakukan percakapan empat mata secara intensif.
Ia tidak menampilkan dirinya sebagai mentor yang terus memberikan instruksi. Sebaliknya, ia berulang kali menegaskan bahwa pemerintahan merupakan wilayah Presiden Prabowo.
Pergantian menteri adalah hak prerogatif presiden. Perbedaan prioritas merupakan kewajaran. Kekurangan program pemerintah harus dievaluasi, dikoreksi, kemudian diperbaiki.
Bahkan kepada putranya sendiri, Gibran, pesannya jelas: ojo kemajuan. Jangan terlalu maju. Jangan mendahului presiden. Jangan merasa mempunyai kewenangan yang tidak dimiliki.
Di sini Jokowi menyentuh sebuah etika penting dalam transisi kekuasaan. Mantan presiden boleh memiliki pengalaman, tetapi presiden baru harus memiliki ruang untuk memimpin.
Jokowi menginginkan continuity. Namun keberlanjutan tidak berarti Prabowo harus menjadi salinan Jokowi. Sebuah estafet hanya bekerja ketika tongkat benar-benar berpindah tangan.
-000-
Mendengar Jokowi, saya teringat Barack Obama. Pada November 2020, Obama diwawancarai Scott Pelley untuk program 60 Minutes CBS di Washington, D.C.
Wawancara berlangsung setelah Joe Biden memenangkan pemilu. Amerika sedang terbelah, sementara Donald Trump belum menerima hasil pemilihan yang mengakhiri masa pemerintahannya.












