Generasi yang kreatif dan inovatif dengan keterampilan berbahasa lokal (bahasa daerah), adalah jalan mewujudkan citra budaya daerah menuju pemajuan budaya nasional.
Hal ini salah satu jalan menegakkan pilar ekspresi ketahanan budaya lokal di masa kini dan mendatang, dalam menjawab tantangan kemajuan global.
Penguasaan keterampilan berbahasa lokal (bahasa daerah) seringkali dipandang sebagai isu warisan budaya semata, namun sesungguhnya ia adalah pondasi krusial dalam membentuk karakter generasi yang kreatif dan inovatif di Indonesia, sekaligus menjadi motor bagi pemajuan budaya nasional.
Pendapat ini berargumen bahwa bahasa daerah bukanlah beban usang, melainkan aset kognitif dan kultural yang harus diintegrasikan secara strategis dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Oleh karenanya, sangatlah pantas jika untuk mewujudkan pemajuan kebudayaan itu perlu mengacu pada keunggulan kemampuan berbahasa. Berupa keterampilan tiap individu saat ketika berkomunikasi dan berkreasi dengan memanfaatkan bahasa daerahnya, dengan demikian sesungguhnya merupakan upaya nyata menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang dianutnya.
Sulawesi Selatan misalnya, salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai ragam bahasa daerah dengan kekayaan leksikon, struktur, dan filosofi yang unik, seperti: Bahasa Makassar, Bahasa Bugis, Bahasa Mandar dan Bahasa Toraja dan diantaranya tercatat sebagai bahasa lokal yang telah memiliki aksara dikenal dengan sebutan Aksara Lontara.
Daeng Pamatte, salah satu generasi di jamannya yang memiliki kemampuan cipta menyusun bentuk-bentuk huruf Aksara Lontara yang unik dengan tingkat filosofi yang luar biasa kuat, berstruktur tegas dan tegak lurus serta mampu memberi makna kehidupan filosofi yang dalam.
Sebuah gambaran inovasi yang mengakar bagi generasi yang memiliki kemampuan bilingual atau multilingual (termasuk bahasa daerah) yang memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih tinggi.
Sebagai generasi mendatang yang bertanggung jawab diwajibkan memiliki daya kreatif dan inovatif, melatih diri beralih kode bahasa secara lancar serta berpikir multidimensi. Sebab inovasi terkadang lahir dari kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, generasi muda yang didominasi oleh ekonomi kreatif, bahasa daerah adalah bahan baku otentik yang tak terbatas, sebagai contoh pada Bahasa Makassar misalnya, dapat menjadi sumber kreativitas yang memiliki keunikan dan nilai jual kuat secara global.
Dari segi ilmu bahasa dan bahasa sebagai sastra. Bahasa Makassar telah mendapat pengakuan sebagai bahasa daerah yang mampu berkembang sebagai ilmu pengetahuan ilmiah (linguistik). Olehnya itu dibutuhkan sentuhan kreativitas yang mengakar pada generasi mendatang dengan menghidupkan nilai-nilai bahasa yang terkandung dalam Bahasa Makassar dan mentransfomasikannya agar relevan di masa kini. Bahasa daerah berperan sebagai: Banteng Penjaga Kebudayaan.













