Membangun Karakter Generasi Mendatang yang Kreatif dan Inovatif Melalui Keterampilan Berbahasa Lokal Wujud Citra Budaya Sulsel

Sulawesi Selatan misalnya, salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai ragam bahasa daerah dengan kekayaan leksikon, struktur, dan filosofi yang unik, seperti: Bahasa Makassar, Bahasa Bugis, Bahasa Mandar dan Bahasa Toraja dan diantaranya tercatat sebagai bahasa lokal yang telah memiliki aksara dikenal dengan sebutan Aksara Lontara.
Daeng Pamatte, salah satu generasi di jamannya yang memiliki kemampuan cipta menyusun bentuk-bentuk huruf Aksara Lontara yang unik dengan tingkat filosofi yang luar biasa kuat, berstruktur tegas dan tegak lurus serta mampu memberi makna kehidupan filosofi yang dalam.

Sebuah gambaran inovasi yang mengakar bagi generasi yang memiliki kemampuan bilingual atau multilingual (termasuk bahasa daerah) yang memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih tinggi.

Sebagai generasi mendatang yang bertanggung jawab diwajibkan memiliki daya kreatif dan inovatif, melatih diri beralih kode bahasa secara lancar serta berpikir multidimensi. Sebab inovasi terkadang lahir dari kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, generasi muda yang didominasi oleh ekonomi kreatif, bahasa daerah adalah bahan baku otentik yang tak terbatas, sebagai contoh pada Bahasa Makassar misalnya, dapat menjadi sumber kreativitas yang memiliki keunikan dan nilai jual kuat secara global.

BACA JUGA:  Pameran Lukisan dan Dialog Antargenerasi di Mataram

Dari segi ilmu bahasa dan bahasa sebagai sastra. Bahasa Makassar telah mendapat pengakuan sebagai bahasa daerah yang mampu berkembang sebagai ilmu pengetahuan ilmiah (linguistik). Olehnya itu dibutuhkan sentuhan kreativitas yang mengakar pada generasi mendatang dengan menghidupkan nilai-nilai bahasa yang terkandung dalam Bahasa Makassar dan mentransfomasikannya agar relevan di masa kini. Bahasa daerah berperan sebagai: ​Banteng Penjaga Kebudayaan.

Dari segi penulisan maupun lisan Bahasa Makassar mempunyai ragam dan bentuk-bentuk kesusastraan yang dapat dikembangkan sesuai kemampuan individu dalam menguasai bahasa daerahnya. Kesusastraan klasik misalnya, ada; Rupama (dongeng), Kelong (syair yang dapat dilagukan), Sinrili (sastra tutur ungkapan berirama khas). Begitu juga dengan bentuk sastra modern dikenal sebagai Puisi Makassar dan lain-lainnya, dapat menjadi sumber inspirasi dan investasi strategis dalam Pembangunan Pemajuan Budaya Nasional di Panggung Global.

Sebagai refleksi bagi generasi yang ingin berkarya dan menerapkan nilai-nilai budaya klasik dan lainnya melalui keterampilan berbahasa Daerah Makassar dapat menciptakan karya sastra daerah yang inovatif, semisal Puisi Makassar.
Sebagai alternatif yang dapat membantu mempraktikkan kemampuan berkarya penulis menawarkan Puisi Makassar sebagai bentuk sastra daerah modern.

BACA JUGA:  Abang Saya Mau Berhenti Kuliah Saja, Kenapa ?

Namun pada tujuh tahun yang silam, Syahril patakaki Daeng Nassa (nama pena penulis) menggunakan istilah klasik yang lebih kuat mewakili nuansa bahasa daerah Makassar yang khas. Istilah “Sanja” dengan memadukan kata “Mangkasara” menjadi frasa yang kuat untuk menuangkan proses kreatif sastra daerah penulis, dalam bentuk frasa “Sanja Mangkasara” yang bermakna “Puisi Makassar”. Dimana pegiat dan pelakon sanja (sajak/puisi) disebut “Pasanja” dalam Bahasa Makassar.

Bentuk “Sanja Mangkasara” ini, telah di populerkan oleh penulis lewat sebuah buku Sanja Mangkasara berjudul: “Attayang ri Masunggua” oleh Penerbit: RAYHAN INTERMEDIA, Oktober 2020 dengan nomor ISBN: 978-602-6216-51-9 yang di launching pada tanggal 17 Nopember 2020. Bentuk Sanja Mangkasara ini juga telah dimuat di berbagai Antologi Puisi Berbahasa Daerah dan konten-konten di media-media termasuk medsos.
Sebagai bahan referensi penulis menghadirkan beberapa bentuk Sanja Mangkasara dengan berbagai ragam kreativitas mengungkapkan kearifan budaya Makassar.