Tema “Pers Sehat” yang diusung sepertinya hanya sekadar slogan. Tidak sesuai dengan kenyataan. Ingin pers sehat tetapi proses konferensi menuju pemilihan Ketua PWI Sulsel dan pemilihan Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel sangat tidak sehat.
Ada aturan yang dibuat yang tidak memiliki landasan yang jelas dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) PWI yang secara langsung maupun tidak langsung membatasi hak anggota untuk maju dalam bursa pencalonan.
Aturan itu antara lain kewajiban melampirkan surat bebas sanksi organisasi dari Dewan Kehormatan PWI, dukungan minimal 20 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT), serta persetujuan tertulis dari perusahaan media tempat anggota bernaung sesuai kartu anggota. Seharusnya, tata tertib Konferensi PWI Sulsel menjadi instrumen untuk menjamin proses demokrasi organisasi berjalan terbuka dan adil.
Persaudaraan dan Silaturrahim
Konferprov PWI Sulsel seharusnya menjadi wadah utama untuk mempererat silaturahmi, menjaga muruah organisasi, serta merumuskan program kerja demi kemajuan insan pers. Jangan abaikan semangat persaudaraan sesama anggota Persatuan Wartawan Indonesia.
Konferprov bukan semata-mata arena kontestasi untuk memilih Ketua PWI Sulsel dan Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sulsel. Lebih dari itu, konferensi merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat provinsi yang seharusnya menjadi ruang silaturrahim, ruang bertemu kembali, dan ruang mempererat kebersamaan di antara para wartawan anggota PWI.
Banyak anggota dan pengurus PWI yang sudah cukup lama tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing, berpencar di berbagai daerah, atau menjalankan tugas jurnalistik di tempat yang berbeda.
Konferprov menjadi momentum yang tepat untuk saling menyapa kembali, berjabat tangan, bertukar cerita, dan mengenang perjalanan panjang organisasi yang telah dibangun bersama selama bertahun-tahun.
Pilihan boleh berbeda. Dukungan kepada calon tertentu adalah hak demokratis setiap anggota, tetapi perbedaan pilihan tidak boleh menjelma menjadi sekat yang merenggangkan persaudaraan.
Siapa pun yang terpilih nantinya, baik sebagai Ketua PWI Sulsel maupun Ketua Dewan Kehormatan Provinsi, pada hakikatnya adalah amanah untuk mengurus rumah besar yang sama, yaitu PWI Sulawesi Selatan.
Yang lebih penting dari sekadar menang atau kalah adalah bagaimana organisasi ini dapat terus tumbuh sehat, kuat, dan bermartabat.
Pengurus yang terpilih harus mampu menyusun program kerja yang berpihak pada peningkatan kualitas, kompetensi, profesionalisme, serta kesejahteraan wartawan anggota PWI. Organisasi harus hadir memberikan manfaat nyata bagi anggotanya, bukan sekadar menjadi arena perebutan jabatan.













