Setelah menyambar topi dan sajadah mini yang biasa dibawa saat mengikuti salat lima waktu berjamaah di masjid, saya pun bergegas ke rumah ibadah yang menyontek nama Prof. Amiruddin tersebut. Saat saya masuk, jenazah sudah ada di bagian belakang saf jamaah laki-laki, di dekat tirai pembatas jamaah perempuan.
Usai salat tahiyatul masjid, saya berdiri, tiba-tiba seorang pria dengan tubuh jangkung berkacamata menyalami saya.
“Saya sama-sama ke Tanah Suci tahun kemarin,” kata pria tersebut, sementara otak saya terus berpikir siapa gerangan nama laki-laki yang baru saya temui itu. Otak lansia ini – yang lebih mudah mengingat yang puluhan tahun silam ketimbang yang belasan tahun terakhir – terus bekerja menjawab pertanyaan dalam diri sendiri. “Siapa gerangan teman ini???’’
Usai salat jenazah, saya segera ke depan pintu masuk masjid. Berharap dapat memegang keranda jenazah saat diangkut ke mobil ambulans Unhas yang sudah menunggu. Saya tetap berdiri di depan tangga masuk masjid setelah ambulans pergi. Soalnya Prof. JJ masih berbicara dengan Prof.Dr.Rusnadi Padjung di teras luar masjid. Tidak enak saya tak menyapa Prof. JJ saat meninggalkan masjid.
Pada waktu yang bersamaan, teman yang menyalami di dalam masjid juga bergabung dengan saya. Setelah saya mengenali suaranya dengan saksama, astaga… ternyata Andi Wanua Tangke (AWT), salah seorang penulis kreatif yang dimiliki Sulawesi Selatan.
Pria kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, 4 April 1964, menjelang akhir tahun 1980-an pernah mengambil mata kuliah yang saya ampu, Analisis Drama di Fakultas Sastra Unhas. Suami dari Andi Farisna ini termasuk sangat sedikit dari tidak banyak penulis yang mampu eksis dengan melahirkan dua penerbit buku, yakni Penerbit Refleksi dan Penerbit Arus Timur.
AWT yang menamatkan pendidikan di SD Pising, Soppeng (1976) – SMP Negeri Ta’juncu, Soppeng (1979), dan SMA Negeri 5 Makassar (1983) serta Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (1992), sebelum menjabat Direktur Penerbitan Pustaka Refleksi dan Arus Timur, sejak 2001 hingga kini, pernah berkarier sebagai wartawan ”Bina Baru”, Redaktur Pelaksana ”Berita Kota Makassar”, dan wartawan ”Media Bisnis”. Latar belakang pendidikan sarjana-nya dibekali pengalaman bertahun-tahun sebagai wartawan, AWT bulat meniti karier sebaga penulis sekaligus sebagai penerbit.
Kompas.com yang tayang 15 april 2011 melalui tulisan Maria S.Sinurat dan Nasrullah Nara menulis panjang tentang AWT hingga telah menarik perhatian pembaca media tanah air. Dia bercerita panjang tentang pergulatannya mulai membangun penerbitan Pustaka Refleksi 3 April 2001. Keberanian AWT ini dianggap tidak lazim karena menghadapi arus deras serbuan buku yang diterbitkan Pulau Jawa.
“Lewat penerbit buku Pustaka Refleksi, Andi Wanua Tangke mencoba ”melawan” sentralisasi konten buku pelajaran yang selama ini didominasi penerbit dari kota besar di Pulau Jawa,” kata AWT seperti ditulis Kompas.com yang kemudian menyebutkan kelahiran Pustaka Refleksi berawal dari keresahan akan minimnya bahan kepustakaan tentang kisah-kisah Sulawesi Selatan
Buku-buku yang terbit umumnya dikemas terlalu ilmiah sehingga tak menarik minat anak muda. Dia berupaya mewujudkan terbitnya buku yang bertalian secara emosional dengan pembacanya melalui bahasa yang ringan.
Imbas mimpinya itu lahir dari rumah sederhana di gang sempit di Kota Makassar, Sulsel. Inilah ”markas intelektual” Wanua dan rekannya, Anwar Nasyaruddin (49, tahun 2011), untuk menekuni naskah yang siap diterbitkan. Dalam rentang waktu 10 tahun, penerbit itu telah menelurkan 369 judul buku.












