Di Balik Peluncuran Edisi Revisi Buku “A.Amiruddin Nakhoda dari Timur” (12-Habis): Responsif Terhadap Diskriminasi Gender

Ketika Prof. Amir meninggal, saya sangat sedih. Saya merasa, motivasi saya semakin kuat karena pandangannya. Beliau tidak mengatakan saya harus ini dan harus itu, tetapi memberikan pandangan yang membesarkan jiwa. Beliau bilang begini:
“Makin banyak calon yang maju, makin baik. Jadi, orang-orang Unhas itu terbukti memiliki kemampuan. Beda dengan ketika dulu, saya ditunjuk,” papar Prof. Amir sedikit mengenang masa lalunya. Katanya lagi, untuk menjadi rektor terpaksa “dipulangkan”.
“Jadi kalau sekarang begitu, berarti Unhas semakin bagus,” tambah Prof.Amir.

Saat beliau meninggal itu…. saya merasa selain sebagai guru – jelas – panutan, pimpinan kita, tetapi juga merasa kehilangan sebagai bapak… (Prof.Dwia Aries Tina Pulubuhu…berhenti beberapa detik, seperti sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya, ed.).

Jadi kalau sekarang, saya menghadapi suatu situasi yang pelik di Unhas, langsung suka berkontemplasi ke belakang. Dulu, Prof. Amiruddin dengan sarana terbatas saja, bisa melakukan yang terbaik. Saya selalu katakan kepada teman-teman di Unhas, kita ini mampu dengan sumber daya manusia yang unggul. Kita tinggal wujudkan saja, jangan hanya bicara, tetapi dengan dulu saja saat situasi dan kondisi terbatas, Prof. Amir bisa meletakkan Unhas seperti sekarang dan seharusnya kita lebih bisa. Mengapa kita yang sekarang tidak mampu?.

BACA JUGA:  Rahman Rumaday, Sosok Inspirator Oleh :Anwar Nasyaruddin (Sekertaris IKAPI Sulsel, Cerpenis)

*Professor Dwia Aries Tina Pulubuhu*
(Rektor Unhas 2014-2018 & 2018-2022, dan Komisaris Independen PT Vale)