Sejarah Islam tidak hanya mencatat orang-orang yang mencintai, membela, dan menyebarkan ajaran Rasulullah. Sejarah juga mencatat orang-orang yang menolak, menghina, memfitnah, bahkan berusaha menghancurkan dakwah Islam.
Fenomena tersebut bukan sesuatu yang baru.
Sejak Rasulullah Muhammad mulai menyampaikan risalah tauhid di Makkah, telah muncul kelompok yang merasa bahwa dakwah Islam mengancam kekuasaan, status sosial, kepentingan ekonomi, tradisi, dan dominasi politik mereka.
Di antara tokoh yang paling terkenal adalah Abu Lahab, Abu Jahl, dan an-Nadhr bin al-Harith.
Berabad-abad kemudian, bentuk permusuhan terhadap Islam mengalami perubahan. Jika pada masa Rasulullah provokasi dilakukan melalui cacian, fitnah, tekanan sosial, penyiksaan, dan pemboikotan, maka pada zaman modern provokasi dapat dilakukan melalui media massa, media sosial, demonstrasi, simbol-simbol penghinaan, propaganda digital, dan produksi konten viral.
Salah satu contoh kontemporer yang menarik untuk dikaji adalah Jake Lang, aktivis politik sayap kanan Amerika Serikat yang dalam beberapa tahun terakhir melakukan sejumlah aksi provokatif terhadap komunitas Muslim dan Al-Qur’an.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah pola permusuhan tersebut dapat masuk ke Indonesia?
Dan yang lebih penting:
Bagaimana umat Islam mengantisipasinya tanpa terjebak dalam perangkap provokasi?
Pembenci Islam dalam Sejarah
Salah satu contoh paling jelas dalam sejarah awal Islam adalah Abu Lahab, paman Rasulullah.
Ia bukan orang asing. Ia berasal dari lingkungan keluarga Nabi sendiri. Namun hubungan darah tidak otomatis membuat seseorang menerima kebenaran.
Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan dakwah tauhid secara terbuka, Abu Lahab justru tampil sebagai salah satu penentang paling keras.
Al-Qur’an bahkan mengabadikannya dalam satu surah khusus:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.”
(QS. Al-Masad: 1)
Abu Lahab tidak sekadar berbeda keyakinan. Ia berusaha menghalangi dakwah Rasulullah ﷺ dan mempengaruhi masyarakat agar tidak mengikuti beliau. Kajian akademik tentang Abu Lahab juga menunjukkan bahwa permusuhannya berkaitan dengan kepentingan sosial dan kekuasaan yang merasa terancam oleh perubahan yang dibawa Islam.
Di sinilah terdapat pelajaran penting.
Permusuhan terhadap Islam terkadang tidak semata-mata berasal dari persoalan teologi.
Ia dapat muncul karena: takut kehilangan kekuasaan, takut kehilangan pengaruh, takut kehilangan keuntungan ekonomi, mempertahankan status quo, kesombongan, fanatisme terhadap tradisi, atau ketakutan terhadap perubahan sosial.












