Pendaratan Menegangkan

“Kenapa tidak ke Mataram saja tadi, Mbak?,” tanya saya kepada seorang Pramugari begitu pesawat mendarat.
“Tadi kita sudah mau ke Mataram, tapi masuk laporan Bima, sudah bisa mendarat,” jawab sang Pramugari.
Cerita gagal “landing” di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin bukan pertama kali. Sudah terlalu sering terjadi terutama pada saat musim hujan.

Terakhir yang paling “parah” pada tanggal 24 Januari 2026, saat berpulang ke rakhmatullah Tuan Guru K.H. Muhammad Hasan, B.A.. Rombongan anak-anaknya yang terbang dari Jakarta yang sedianya akan mendarat sore di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin terpaksa balik ke Bandara Internasional Lombok (BIL) karena cuaca buruk dan menginap. Penerbangan dilanjutkan pagi-pagi keesokan hari.

“Gagalnya pesawat mendarat ini ternyata ada hikmahnya. Guru (panggilan Prof. Thib terhadap ayahnya) ingin disemayamkan semalam di Masjid Al Mukhlishin Salama Parado Bima yang dibangunnya pada tahun 1998,” kata Prof. Thib saat memberi sambutan pada takziah malam ketiga, 27 Januari 2026 di Salama Bima yang ditayangkan melalui zoom.

BACA JUGA:  AAA Arina Saraswati, Perempuan Ayu yang Mau Urus Sampah

Pada penerbangan Wings Air 19 Maret 2026 itu, saya memang sudah khawatir bakal diadang cuaca buruk. Soalnya, Bima masih teus diguyur hujan. Adik saya H.Ahmad Muslim, yang dikontak siang hari saat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar menyebutkan hujan Rabu turun di Bima. Kekhawatiran saya ini ternyata terjawab dengan adanya penundaan keberangkatan pesawat dari Makassar ke Bima karena menunggu penumpang transit dari Yogyakarta tersebut. (Bima, 20 Maret 2026).