Saya mencoba pulas pada kursi nomor 3A, tepat di jendela kiri pesawat. Saya memang menginginkan kursi dekat jendela sebelah kiri karena ingin mengabadikan pemandangan Kota Bima dari udara yang sudah lama saya tidak lakukan karena selalu naik kapal PT Pelni bareng keluarga. Cuaca di atas Laut Flores cerah. Gumpalan awan jauh di bawah sana tampak melayang kecil-kecil terpisah.
Sekitar pukul 16.15, bunyi Co Pilot kembali bersuara.
“Dari ruang kemudi, Co Pilot berbicara, dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin diinformasikan bahwa cuaca di atas bandara berada di bawah keselamatan pendaratan. Oleh sebab itu kita akan melakukan “holding” selama 20 menit,” katanya.
Saya pun melihat arloji, berarti sekitar pukul 16.35 baru bisa mendarat. Ternyata, waktu ini adalah jadwal tiba pesawat yang sebenarnya dan dimulainya pesawat harus melayang-layang menunggu cuaca yang memungkinkan bisa mendarat.
Jika memperoleh laporan “Air Traffic Control” (ATC) “Air Navigation” seperti ini, pesawat akan menghabiskan waktu di udara selama 20 menit sambil menunggu laporan kondisi cuaca berikutnya. Jika terbang dari Makassar ke Bima, matahari berada di sebelah kanan. Pada saat “holding”, saya mencatat tiga kali matahari bersinar di sebelah kiri saya yang duduk di dekat jendela. Berarti, pesawat sudah tiga kali balik kanan, mengarah ke utara.
Beberapa saat terdengar suara pramugari yang menginformasikan bahwa dalam waktu tidak lama kita akan segera mendarat.
“Mohon penumpang kembali ke tempat duduknya masing-masing dan tetap memasang sabuk pengaman,” seru seorang Pramugari, meskipun tahu, para penumpang sejak dari Makassar tetap terikat di kursinya masing-masing.
Usai pengumuman Pramugari, pesawat terus menurunkan ketinggian, tetapi mata saya yang di dekat jendela sebelah kiri tidak pernah melihat pemandangan apa-apa di luar sana, kecuali kabut tebal.
Pikiran saya mulai macam-macam. Soalnya, menjelang pendaratan, pesawat akan melintas di sisi barat Teluk Bima. Di depan Pelabuhan Bima ada Pulau Kambing yang menjulang. Tetapi selama saya terbang dari Makassar ke Bima, pesawat tidak pernah melintas di atasnya. Tetapi di sebelah barat ada pegunungan Soromandi yang jika salah ‘senter’ bisa bernasib sama dengan ATR50 yang melabrak Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep-Maros, beberapa bulan lalu.
Pesawat terus menurunkan ketinggian. Kamera saya aktifkan. Merekam suasana di luar jendela yang hanya tampak kabut tebal. Saya yakin, Pilot bisa melihat situasi di depan sana. Pesawat terus menurunkan ketinggian. Tiba-tiba saya melihat moncong berbelok ke kiri. Tampak ada daratan di bawah sana sekaligus melegakan hati. Itu pinggir barat ujung selatan Teluk Bima, tempat bandara berada. Rupanya dia sudah melewati bandara dan melakukan sedikit manuver ke utara. Baru berbelok sedikit ke kanan dua kali dan bergerak lurus ke selatan kian merendah.
Tidak terasa, mata saya melihat deretan tambak yang ada di kiri kanan landasan pacu. Wah, kayaknya pesawat akan segera mendarat. Betul juga. Roda-roda pesawat terdengar menjerit, kemudian terasa hentakan pengereman sekali.
Hujan lebat agaknya baru saja turun sebelum pesawat mendarat.
Dalam sejarah terbang dari Makassar-Bima, ini kali kedua saya mengalami pendaratan paling menegangkan. Pada tahun 2017 justru lebih heboh lagi. Jarak Makassar-Bima kami tempuh total hampir tiga jam. Termasuk 2 jam berada di udara.
Adik-adik di Bima dan Mataram menelepon ke istri saya di Makassar, menanyakan jam berapa berangkat dari Makassar, kok belum juga tiba di Bima. Yang di Bima menjelaskan, tadi ada pesawat yang sudah di atas bandara, tetapi hilang lagi. Sampai sekarang belum kelihatan. Sudah hampir pukul 16.30, setelah meninggalkan Makassar pukul 13.00 Wita, baru pesawat mendarat.












