Lokasi WMD ini ada beberapa daerah kabupaten. Seingat saya, salah satu di antara kabupaten itu adalah Luwu (belum dimekarkan waktu itu). Saya termasuk yang mendapat tugas di Luwu bersama Andi Patarai Wawo, Baso Amir, dan Aidir Amin Daud (jika tidak keliru).
Diantar M.Jusuf Moha yang kebetulan juga akan “pulkam”, kami disinggahkan di Cimpu, sebuah desa nelayan yang terletak di Kecamatan Suli. Desa ini kaya akan hasil tangkapan ikan tongkol. Hanya saja masalahnya, belum ada koperasi yang menampung hasil tangkapan mereka. Ikan-ikan ini lebih banyak jatuh ke tangan para tengkulak yang menerapkan sistem ijon. Membayar semua kebutuhan para nelayan dan membeli hasil tangkapannya dengan harga murah.
Mengetahui permasalahan yang dihadapi para nelayan itu, kami pun sepakat menyampaikan penyuluhan tentang pentingnya pembentukan koperasi di Desa Cimpu. Agenda acaranya dilaksanakan pada malam hari pada sebuah bangunan setengah batu, tidak jauh dari pantai. Kami diantar oleh Kepala Desa yang saya sudah lupa namanya, tetapi merupakan purnawirawan TNI. Ketika itu, memang banyak pensiunan tentara terjun menjadi kepala desa. Selain untuk memimpin masyarakat dengan penuh disiplin, juga yang tidak kalah pentingnya adalah demi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Andi Patarai Wawo ditunjuk sebagai pembawa materi. Kami memang sudah disuluh di PWI Sulsel dalam berbagai masalah tentang desa sebelum diterjunkan dalam proyek WMD ini. Termasuk masalah koperasi. Topik-topik itu memang dibahas oleh ‘tim pemikir” PWI Sulsel.
Andi Patarai Wawo yang hingga kini tetap berkumis lebat dan seorang wartawan “penyanyi” legendaris ini, tampil memberikan “tausiah”-nya di depan puluhan masyarakat yang hadir. Tentu saja, di antara yang hadir ada dari kalangan pengusaha lokal.
Pak Andi Patarai Wawo menekankan pentingnya kehadiran koperasi sebagai sokoguru perekenomian masyarakat. Banyak aspek yang dibahasnya. Namun ketika mulai menyebut kata “tengkulak”, saya mencubit pahanya. Pak Andi tidak memahami komunikasi verbal (gestur/bahasa tubuh) yang saya lakukan. Maksud saya, hentikan menyebut “tengkulak” itu karena kami sedang berada di wilayah yang dikuasai mereka.
Meskipun beberapa kali komunikasi verbal saya lakukan, Pak Andi Patarai Wawo tetap bergeming (diam, tidak berubah). Terus saja ‘nrocos’ (bahasa Jawa, artinya, berbicara dengan sangat cepat, tanpa henti, dan mengalir deras). Di tengah kekhawatiran saya yang kian membuncah, dia akhirnya berkata.
“Kami mohon maaf jika apa yang kami sampaikan ini kurang berkenan di hati-hati Bapak-Bapak. Sebab, kami sebagai wartawan hanya memberi edukasi dan informasi saja. Segala sesuatunya sangat bergantung kepada Bapak semuanya,” ucap Andi Patarai Wawo mengakhiri penyuluhannya yang saya rasa juga sebagai hasil ‘cubitan’ saya tadi, meskipun beberapa saat baru direspons.











