Meskipun beberapa kali komunikasi verbal saya lakukan, Pak Andi Patarai Wawo tetap bergeming (diam, tidak berubah). Terus saja ‘nrocos’ (bahasa Jawa, artinya, berbicara dengan sangat cepat, tanpa henti, dan mengalir deras). Di tengah kekhawatiran saya yang kian membuncah, dia akhirnya berkata.
“Kami mohon maaf jika apa yang kami sampaikan ini kurang berkenan di hati-hati Bapak-Bapak. Sebab, kami sebagai wartawan hanya memberi edukasi dan informasi saja. Segala sesuatunya sangat bergantung kepada Bapak semuanya,” ucap Andi Patarai Wawo mengakhiri penyuluhannya yang saya rasa juga sebagai hasil ‘cubitan’ saya tadi, meskipun beberapa saat baru direspons.
Setelah penyuluhan itu, pada sebuah rumah kosong setengah batu, tempat kami anggota WMD menginap, kami kembali memperbincangkan penyuluhan yang beraroma “bunuh diri” itu. Yang ironis, semalaman kami tidak bisa tidur. Khawatir ada ‘serangan balik’ dari pihak-pihak yang disentil Pak Andi Patarai Wawo dalam penyuluhannya. Syukur tidak. Kami pun lega, hingga balik ke Ujung Pandang keesokan hari. (*).












