Begitulah tiap bulan saya datang ke Pak Ancu membawa uang Rp 2 juta setiap bulan. Kadang-kadang juga saya bertemu di kediaman Pak Ande Abdul Latief di Jl. Mappanyukki ketika datang bermain domino dengan teman-teman suporter PSM. Pak Ancu termasuk pemain domino “tattarak” (bahasa Makassar, keras). Di kantornya kalau sudah sore dan tidak ada kegiatan, Pak Ancu biasa ditemukan di salah satu ruangan di lantai dasar kantor NV Haji Kalla sedang membanting kartu.
Sekali waktu suatu malam saya antar Pak Ancu pulang ke Jl. G.Bulu Ina, kediamannya.
“Masih mulus mesin mobilmu ini,” kata Pak Ancu mendengar desis bunyi mesin mobil eks Wali Kota Ujung Pandang yang ditumpanginya.
Pada bulan kesembilan saya datang lagi membayar cicilan mobil seperti biasa ke ruangan kerja Pak Ancu di lantai 2 pojok timur Kantor NV Haji Kalla di Jl. HOS Cokroaminoto. Saya pun menyerahkan langsung uang cicilan di dalam amplop kepada Pak Ancu yang duduk menghadap ke selatan — berhadapan dengan saya — di ruang kerjanya.
“Tinggal berapa bulan cicilanmu, Lan?” tiba-tiba terdengar pertanyaan Pak Ancu.
“Ini bulan ke-9, Pak Ancu. Hanya saja saya belum balik nama,” kata saya.
“Ya, sudah, sisa cicilanmu itu kau gunakan saja untuk biaya balik nama,” kata Pak Ancu hampir bersamaan dengan kegembiraan saya membuncah habis.
Jadi, saya hanya membayar cicilan mobil Rp 18 juta, setelah mengalami dua kali diskon. Dari Rp 22 juta menjadi Rp 20 juta dan dari Rp 20 juta menjadi Rp 18 juta.
Pak Ancu berpulang setelah pasangan Pak SBY-JK terpilih sebagai Presiden-Wakil Presiden. Bahkan, setelah pengumuman kemenangan pasangan ini, Pak Acu telah mengorganisasi sekitar 350 orang relawan Pak SBY-JK untuk mencukur gundul rambutnya. Entah berapa jumlah juru cukur dari sekian banyak salon di Makassar dikerahkan “menyerbu” Kantor NV Haji Kalla guna menghabisi mahkota kepala para relawan yang bernazar itu.
Saya sangat bersedih karena tidak sempat membesuk Pak Acu ketika dirawat di rumah sakit. Juga saat dikebumikan karena saya sedang berada di luar kota dalam waktu yang agak lama. Namun ketika malam takziah, saya datang dan bertemu dengan istrinya. Seorang wanita yang sangat ramah dan cantik dan kerap tersenyum saat kami bertemu.
“Bu, saya ikut berduka yang mendalam atas kepergian Bapak. Mohon maaf saya tidak sempat membesuk di rumah sakit dan melayat saat Bapak berpulang karena sedang di luar kota,” bisik saya dan tak terasa airmata saya berlinang.
WMD
Ini kenangan dengan Andi Patarai Wawo. Ketika saya menjabat Sekretaris PWI Sulsel (1988-1993), berlangsung kegiatan Wartawan masuk Desa (WMD). Pimpinan Proyek WMD ini adalah M.Jusuf Moha, yang di pengurus PWI Sulsel kala itu menjabat Wakil Sekretaris.











