Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (3-Habis) Berawal dari Tak Pede

Pede
Penulis, Nakhoda KM TILONGKABILA Capt.Subair, dan Nur Azizah M. di ruang kemudi

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Perjalanan kehidupan pendidikan Nur Azizah Muhidin hingga tiba pada kariernya sebagai salah seorang karyawati BUMN PT Pelni bagaikan sebuah patron ideal yang layak diikuti oleh seorang pembelajar.

Anak pertama dari empat bersaudara ini lahir di sebuah desa di tenggara Makassar, Kalumeme Ujungbulu Bulukumba 24 tahun silam. Dia mulai mengawali pendidikannya seperti anak-anak kebanyakan pada masanya. Memasuki taman kanak-kanak hingga sekolah dasar di desa asalnya.

Pada saat memasuki SMP, Azizah pindah ke Jeneponto. Di kabupaten yang terkenal dengan coto kudanya itu, dia tinggal dengan nenek dan mulai berpisah dengan kedua orang tuanya.

Namun setelah menamatkan pendidikan di SMP, dia balik ke Ujungbulu Kabupaten Bulukumba, bergabung dengan kedua orang tua dan adik-adiknya yang masih belum remaja.

Arah “passion” (minat) Azizah mulai tertanam di sini dengan membidik Sekolah Menengah Kejurusan (SMK) Putra Bangsa di Kalumeme Kelurahan Kalumeme Bulukumba dengan pilihan Program Studi Pariwisata.

Dia mengambil program studi ini, meskipun ada Program Studi lain di SMK ini, yakni Teknik Informatika dan Komputer.

BACA JUGA:  Yang Tersisa Saat Pesta Usai 

SMK yang berdiri sejak 2010 dan dikelolola oleh Yayasan Mappamacca ini kebetulan menjalin kerja sama dengan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassat yang berkampus di Tanjung Bunga.

Di SMK yang terletak di KM 2 Jalan Poros Bulukumba Ujungbulu. Azizah berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Poltekpar Makassar memanfaakan kategori siswa yang kurang mampu plus prestasi akademik yang bagus.

Ayahnya yang bekerja sebagai sopir tidak mampu lagi membiayai karena sakit. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga (IRT).

Saat Azizah mengikuti pendidikan di Makassar, kedua orang tuanya ditemani adik-adiknya, termasuk salah seorang yang sudah bekerja selama delapan bulan di Bali, dipanggil pulang ke Bulukumba.

Selama mengikuti pendidikan di Poltekpar Makassar, Azizah tinggal di kediaman saudara ibunya. Saat kuliah baru berjalan memasuki semester 3, dia membidik Pulau Batam untuk melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) selama empat bulan. Di gerbang depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan negara pulau Singapura itu, dia magang pada sebuah biro perjalanan.

BACA JUGA:  Ujian Magister yang Mengharukan

Mengetahui dirinya diterima magang di biro perjalanan, muncul keinginan Azizah hendak menyeberang ke Singapura yang hanya beberapa puluh menit feri “berenang” dari Batam.

Urusan paspor sudah dibereskan di Makassar. Namun sayang, Azizah belum beruntung. Dia melaksanakan magang di Batam bertepatan dengan Singapura menerapkan “lock down” (pembatasan) akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2021.

Meskipun ada kekecewaan lantaran hajatnya ke Singapura tidak tertunai, namun Azizah memperoleh pengalaman berharga saat dipercayakan sebagai “tour leader” di biro perjalanan itu.

Kesempatan ini memberi ruang waktu kepadanya berinteraksi dengan banyak orang, sekaligus menerapkan dan mempraktikkan ilmu yang diperolehnya dari bangku kuliah.

Azizah kembali ke Makassar. Menuntaskan masa-masa kuliah yang tersisa. Pada saat menulis skripsi, PT Pelni yang memang memiliki nota kesepahataman dengan Poltekpar Makassar, menyambangi kampusnya untuk merekrut calon-calon karyawan bagi perusahaan pelayaran nasional itu. Pelni merekrut mahasiswa yang baru lulus bisa ikut dalam penyaringan menjadi calon karyawan. Azizah harus berkejaran dengan waktu menyelesaikan skripsi dan segala tetek bengek administrasi penuntasan pendidikannya.

BACA JUGA:  Masuk Makassar Belum Tahu Bahasa Indonesia, Catatan: “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra

Dia juga berhasil menyelesaikan Pendidikan Diploma-4 karena ada Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). RPL adalah pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang — diperoleh dari pendidikan formal, nonformal, informal atau pengalaman kerja — sebagai dasar melanjutkan pendidikan formal (kuliah) atau penyesuaian kualitas tertentu. Dan, Azizah mengantongi itu.