Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (3-Habis) Berawal dari Tak Pede

Pede
Penulis, Nakhoda KM TILONGKABILA Capt.Subair, dan Nur Azizah M. di ruang kemudi

“Semua alumni datang mendaftar. Saya datang ke kampus mengejar tanda tangan dosen, melihat mereka tinggi-tinggi dan perempuannya cantik-cantik. Saya dalam kondisi kusam. Saya tidak pede (percaya diri) melihat teman alumni dan senior yang cantik semua,” kenang Azizah sambil tertawa.

Dia mengakui, awal tes tertulis mudah. Anehnya, banyak seniornya yang gugur dari 100 lebih peserta tes.

“Berarti ini tidak memandang fisik,” imbuh Azizah.

Yang lulus tes tahap pertama 22 orang. Tahap berikutnya tes wawancara di kampus. Yang lulus 10 orang, Azizah berada di urutan ke-7. Pada awal bulan dilaksanakan tes wawancara kedua untuk 10 orang yang lulus itu. Hasilnya, lulus 6 orang. Azizah di peringkat kedua. Peringkat I direbut seniornya yang ternyata sudah mengikuti pendidikan S-2.

“Saya sebenarnya ingin mengikuti pendidikan S-2, namun keburu bekerja karena harus menjadi tulang punggung keluarga,” ujar cewek yang senang menulis dan menyanyi ini.

Dari 12 orang yang diterima pada angkatannya, dari Poltekpar Makassar lulus 6 orang, Trisakti Jakarta 2 orang, dan Poltekpar Palembang 4 orang.

BACA JUGA:  Masuk Makassar Belum Tahu Bahasa Indonesia, Catatan: “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra

Jika merunut perjalanan pendidikan Azizah hingga tiba pada titik di KM Tlilongkabila tersebut, jelas berawal dari cita-cita. Cita-cita itu dia wujudkan dengan memilih jalur pendidikan yang tepat dan akan menunjang cita-citanya. Selain pendidikan dan dilanjutkan dengan magang, dia juga memperkaya diri dengan kemampuan dan keterampilan melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan yang menunjang pendidikan teoretiknya.

Ya, semisal ikut menjadi pelaksana kegiatan (event organizer) pada saat Festival (F) 8 yang dilaksanakan Pemkot Makassar beberapa tahun silam. Pada event ini Azizah banyak menimba pelajaran dan pengalaman berharga sebagai modal dan bekal untuk membidik lapangan kerja yang hendak diinginkannya. Yang ternyata, bekerja di atas laut bersama KM Tilongkabila yang saat ini dpimpin nakhoda Capt. Subair.

“Tugas saya di KM Tilongkabila adalah membuat penumpang nyaman dan kapal selalu bersih,” ucap Azizah kemudian mengajak penulis menuju anjungan kapal untuk sesi pengambilan gambar.

Sayang pengambilan gambar pada malam hari tanggal 29 Maret 2026 tidak bisa dilakukan karena seluruh lampu di ruang kemudi kapal harus dalam keadaan padam untuk memudahkan ABK dapat memantau berbagai indikator pelayaran melalui alat komunikasi dan perlengkapan navigasi kapal yang tersedia.

BACA JUGA:  Catatan Tercecer dari Reuni Alumni UIN Alauddin (5-Habis): Prof. Dr.Kadri, S.Ag. M.Si.: Hidup Ini Sukses & Milik Petarung

Kesempatan ini dimanfaatkan penulis untuk bertanya-tanya tentang kegunaan alat-alat tersebut. Termasuk yang menarik adalah radar dan petunjuk rute yang akan dilalui kapal selama berlayar.

Namun dalam kegelapan ruang kemudi, terdengar seseorang yang menyapa.
“Oh.,Pak Aji, ya,” suara itu terdengar begitu akrab di telinga penulis.

Dia adalah pria asal Jeneponto yang kerap muncul di facebook melaporkan setiap KM Tilongkabila meninggalkan atau merapat di satu pelabuhan. Saya sering ikut nimbrung dan menitip salam buat Nakhoda KM Tikongkabila Capt.Subair padanya. Panggilannya Ifonk, namun di akun faceboook-nya tertulis “rfl ifonk” mungkin singkatan namanya, Cerita dia juga menarik, tetapi nanti Penulis sajikan khusus untuk pembaca. (*).