“Janggut dan kumis habis?,” terdengar pertanyaannya lagi dan rasanya ini kalimat baru. Biasanya saya yang memberi tahu.
“Ya. Alis dirapikan,” jawab saya dan alat cukurnya mulai “jelalatan” dengan gesit.
Alis ini termasuk lahan di bagian kepala yang juga subur. Sebab, walaupun sering dipangkas, ukurannya selalu bertambah panjang. Yang tampak mengganggu, ujung-ujungnya jika “bersekutu” sering menghalangi penglihatan. Jika diterpa angin, kadang-kadang bagaikan bendera. Berkibar-kibar. Ha..ha..
Berdasar bagian yang “dibabat”, lama waktu cukur saya tidak pernah lebih dari 10 menit. Kebetulan pula pada hari Sumpah Pemuda itu, dari tiga kursi yang tersedia, masih tersisa dua yang kosong. Jadi, saya langsung saja memilih kursi paling ujung kanan.
“Terima kasih, Pak Aji,” kata si Mas tersebut setelah saya memberikan tarif cukurnya, 25% dari Rp 100.000. Murah meriah dan juga praktis bin cepat!.
(Makassar, 28 Oktober 2025-MDA).












