“Keduanya tidak bisa saling melengkapi,” tulis Kartodikromo.
Nilai cinta yang terungkap melalui karya ini hanya dapat ditemukan oleh orang-orang berpendidikan Belanda. Orang tradisional (Jawa) melihat pernikahan tersebut sebagai jalan mencapai mobilitas sosial.
Marco Kardikromo adalah seorang jurnalis asal Blora yang memulai kariernya di Bandung. Dia sangat menentang kebijakan Hindia Belanda. Selama beberapa tahun dia bekerja sebagai editor pada “Doenia Bergerak” yang berpusat di Surabaya. Di kota inilah menjadi latar novelnya.
Sejak tahun 1916 hingga 1917, ia menghabiskan waktunya lima bulan di Belanda. Sekembali ke Indonesia, Marco Kartodikromo ditangkap oleh otoritas pemerintah Belanda.
Alasannya, dia dituding menyebarkan kebencian. Dia disekap selama setahun di penjara ‘Weltervreden Batavia’ (sekarang, Sawah Besar Jakarta). Saat dikarengkeng inilah dia menulis “Student Hidjo”.
Lalu ada juga landasan politis lahirnya bahasa Indonesia. Ini seiring dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah negara yang berbentuk republik. Waktu yang dirujuk adalah saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.
Sementara landasan konstitusionalnya adalah bersamaan dengan tertuangnya bahasa Indonesia di dalam undang-undang. Tentu ini sudah jelas, bahasa Indonesia termaktub di dalam UUD 1945 yang diundangkan pada 18 Agustus 1945.
Janggut, Kumis Habis
Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, saya kebetulan tidak ke kampus memberikan kuliah. Jadwal hari Selasa memang pernah ada, yakni untuk mahasiswa S-2 dalam mata pelajaran “Analisis Wacana Kritis” yang menjadi bidang kajian saya. Saya sudah menyelesaikan delapan pekan pertama, setelah itu giliran teman dosen tandem.
Memanfaatkan waktu tidak keluar rumah, ya, saya menulis dan membaca buku. Namun tiba-tiba saya berpikir, ada baiknya pergi mencukur rambut karena pandangan selalu merasa terganggu setiap berkaca di cermin.
Langganan saya adalah tukang cukur Madura di dekat pintu masuk ke Kompleks BTN Makio Baji, Jl. Antang Raya Makassar. Tukang cukur ini memang sudah lama menjadi langganan saya. Ya, tukang cukur kilat dan cepat. Tinggal pilih model saja. Babat habis atau cukur tipis-tipis.
Dulu, ketika rambut belum se-‘kritis’ seperti ini, saya bisa bercukur di salon. Tukang cukurnya seorang waria. Dia sudah meninggal karena kerap menenggak obat terlarang. Kasihan. Padahal selalu mengingatkan ketika dia memotong rambut saya, agar menjauhi barang laknat itu.
Saya suka memilih dia karena banyak pengalamannya yang menarik. Dia biasa bercerita tentang pengalamannya bertualang ke berbagai daerah menjalani kariernya sebagai pekerja salon. Hanya biasanya, setelah usai bercerita, selalu keluar kalimat penutupnya.
“Pasti dapat tip ini, karena sudah ma bercerita tokh,” ujarnya.
“Ya, nantilah!,” jawab saya pendek.
Kembali ke tukang cukur Madura. Lantaran sudah menjadi langganan, setiap saya muncul tukang cukur Madura itu selalu melontarkan pertanyaan klise.
“Modelnya, Pak Aji. Kasih tipis-tipis kiri, kanan, belakang. Atas dirapikan?,” tanya tukang cukur itu yang biasa saya panggil “Mas”. Kalimat itu sudah menjadi klise.
“Ya..,” jawab saya pendek.
“Cepat juga rambut Pak Aji lebat ya. Yang di lereng kiri-kanan dan belakang,” katanya bernada ‘nyenggol’ karena tahu setiap saya datang hanya bagian itu saja yang minta ‘dibereskan’.
“Iya, betul-betul lucu. Yang bagian atas, justru tambah kritis,” sahut saya sembari tertawa kecil.
Jika sudah diberi tahu seperti ini, dia tinggal sikat kiri-kanan dan belakang, lalu merapikan bagian atas yang tidak menghabiskan waktu lama.












