Bang Rusdin Tompo Membawa Beta Pulang ka Maluku

_By Rahman Rumaday_

NusantaraInsight, Makassar — Undangan itu datang dengan cara yang sederhana, nyaris sunyi, namun getarnya terasa panjang. Dari seorang guru, seorang abang, seorang penunjuk arah dalam dunia kata-kata yakni Abang Rusdin Tompo. Ia mengundang saya hadir dalam acara Soft Launching dan Diskusi Buku karya miliknya yang bertepatan dengan Hari Ibu, sebuah karya yang judulnya saja sudah seperti pintu pulang yaitu “Ana Makassar Basar di Ambon.” Karya : Rusdin Tompo

Acara tersebut berlangsung di Museum Kota Makassar, pada tanggal 22 Desember 2025. Sebuah ruang yang sejak awal memang diciptakan untuk menyimpan ingatan. Di sanalah buku itu didiskusikan, dipeluk, dan dipertemukan dengan banyak kepala dan hati. Hadir sebagai pembicara Dr. Zulkarnain Hamson, M.Si (akademisi dan jurnalis senior); Pdt. Michael Matulessy (Pendeta GBI Blessed Family Church Makassar) dengan suara Ambon yang jujur dan hangat; serta Yudistira Sukatanya (sastrawan dan budayawan). Percakapan mengalir dipandu oleh seorang moderator bernama Diarmila,

Di dalam museum itu, saya merasa sedang berjalan di sebuah museum lain museum yang tidak tertulis di dinding, tapi hidup di halaman-halaman buku karya Abang Rusdin Tompo.

BACA JUGA:  Visi Misi Penghijauan Tapi Kok Merusak Penghijauan

Museum kosa kata Maluku. Kata-kata yang sebagian tidak pernah saya kenal, padahal darah saya mengalir dari sana. Saya lahir dari tanah Maluku, namun tidak lama menetap. Tahun 2017 barulah saya kembali menginjak Ambon dan sekitarnya. Sebelumnya, saya tumbuh berpindah yakni SD di Sera, Kecamatan Pulau Gorom, Maluku, lalu tamat dan melanjutkan hidup ke Papua tepatnya di kabupaten Fakfak menyelesaikan SMP dan SMA kemudian langsung ke Makassar. Saya tidak benar-benar “pulang” ke Maluku. Maka jangan heran jika banyak orang mengira saya orang Papua; lidah saya lebih fasih meniru logat Papua daripada Maluku. Identitas saya tumbuh di persimpangan.

Dan dalam kesempatan tersebut, lewat buku Abang Rusdin Tompo, saya seperti dituntun pulang. Pulang tanpa kapal. Pulang tanpa tiket. Pulang lewat cerita.

Saya seperti berada di museum kekayaan dan keberagaman orang Maluku. Di sana ada kisah pela gandong ada kisah Katong Basudara yang merajut kekerabatan lintas iman. Ada pasar, sekolah, gereja, masjid, dan rumah-rumah yang dahulu berdiri saling menjaga. Ada suara tawa yang tidak menanyakan asal agama sebelum bersalaman. Semua hadir sebagai kenangan yang hidup bukan nostalgia yang mati, melainkan ingatan yang mengajak kita bercermin.

BACA JUGA:  Jejak Toleransi : Pelajaran Mozarabes di Semenanjung Iberia untuk Indonesia

Ketika saya membaca sepintas halaman-halaman “Ana Makassar Basar di Ambon”, perasaan itu datang pelan-pelan yakni romantis, historis, dan getir. Seperti membaca surat lama dari kampung halaman yang pernah kita tinggalkan terlalu lama. Abang Rusdin Tompo tidak sedang menulis Ambon sebagai turis, tetapi sebagai saudara. Ia menulis sebagai orang Makassar yang belajar menjadi “orang Ambon” dan mungkin, sebagai orang Indonesia yang utuh. Seperti kata Albert Camus,
“Karya seorang pria tidak lain adalah perjalanan panjang dan lambat untuk menemukan kembali, melalui liku-liku seni, dua atau tiga gambar agung dan sederhana yang kehadirannya pertama kali membuka hatinya.” Buku ini adalah detour itu jalan memutar yang justru membawa saya ke jantung.