Bang Rusdin Tompo Membawa Beta Pulang ka Maluku

Yudistira juga menyoroti kekuatan bahasa. Bahasa orang Ambon, katanya, tegas dan lugas langsung ke pokok persoalan, tanpa banyak selubung. Dalam kajian linguistik budaya, bahasa seperti ini sering lahir dari masyarakat pesisir yang terbuka, egaliter, dan terbiasa berjumpa dengan banyak identitas. Dari situlah ia menyimpulkan bahwa Ambon adalah kota kosmopolitan sebuah kota yang sejak lama menjadi titik temu berbagai bangsa, agama, dan budaya, jauh sebelum istilah “multikulturalisme” menjadi wacana akademik. Ia berbicara sebagai orang Makassar yang “diundang” oleh buku ini untuk memahami Ambon bukan sebagai yang lain, bukan sebagai wilayah konflik, tetapi sebagai saudara jauh yang pernah dekat. Sebuah pengingat bahwa kosmopolitanisme sejati, seperti dikatakan Kwame Anthony Appiah, bukan tentang menghapus identitas, melainkan tentang kesediaan hidup bersama dalam perbedaan dan buku ini, menurut Yudistira, berhasil menghadirkan itu dengan jujur dan manusiawi.

Pada momentum berharga tersebut, saya melihat banyak wajah yang saya kenal yakni para tokoh literasi, akademisi, penulis, dan sahabat kata antara lain : Prof. Dr. Kembong Daeng, Prof. Dr. H. Sukardi Weda, Prof. Dr. Nurhayati Rahman, Dr. M. Dahlan Abubakar, Idwar Anwar, Ishakim, Muhammad Amir Jaya, Syahrir Dg Nassa, Arwan D Awing, Andi Ruhban, Rosita Desriani, Maysir, Nas, Nasyaruddin Anwar. Dan sejumlah tokoh lainnya. Mereka hadir bukan sebatas sebagai undangan, tetapi sebagai saksi.

BACA JUGA:  Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Pudji Hartanto Iskandar dan Buku "Kenapa Makassar?"

Saya pulang dari museum itu dengan langkah yang berbeda. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat hanya lebih dalam. Abang Rusdin Tompo, lewat bukunya, tidak sebatas menulis Ambon. Ia membawa saya pulang ke Maluku. Pulang untuk berdamai dengan identitas yang tercerai. Pulang untuk mengingat bahwa toleransi bukan jargon, melainkan pengalaman hidup yang pernah nyata. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” saya tahu bahwa menulis adalah cara lain untuk pulang dan untuk tidak benar-benar pergi.

_Parang Tambung, 23/12/25 | pukul : 02.30._