Pembicara kedua, Pdt. Michael Matulessy, membuka suaranya dengan pengakuan yang jujur. “Beta jujur sadiki… beta gugup,” katanya sambil tersenyum, membuat ruangan seketika mencair. Ia bilang, ini pertama kali beta bicara di tengah orang-orang dengan latar belakang yang beragam yakni agama, budaya, cara pandang. Biasanya, beta cuma berdiri di mimbar gereja, bicara dengan jemaat yang sudah beta kenal. Suaranya khas Ambon, keras tapi hangat, lugas tapi penuh rasa. “Waktu beta baca buku ini,” katanya, “perasaan beta campur aduk. Ada haru, ada bahagia. Ternyata di Makassar ini ada banyak beta pung basudara.” Ucapannya sederhana, tapi mengandung makna sosial yang dalam yakni bahwa relasi kultural orang Maluku tidak pernah benar-benar putus oleh jarak. Dalam kajian antropologi Maluku, relasi ini dikenal sebagai ikatan _basudara_ sebuah konsep kekerabatan sosial yang melampaui darah dan agama, sebagaimana dicatat Dieter Bartels dalam Guarding the Invisible Mountain (1977), bahwa identitas Maluku dibangun dari rasa saling memiliki, bukan sebatas kesamaan asal.
Ia lalu melanjutkan dengan nada yang perlahan berubah lirih. “Beta rasa, baca buku ini tu… kaya beta ada di Ambon skali.” Namun kebahagiaan itu tidak lama berdiri sendiri. Ada sedih yang menyelinap. Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Yang beta paling sedih,” katanya pelan, “waktu ade Rusdin carita tentang keragaman yang dulu tu… sekarang kaya su hilang.” Ia menyebut _”pela gandong”_ tradisi persaudaraan antar-negeri di Maluku yang dulu menjadi fondasi toleransi hidup bersama, kini tidak lagi dirawat seperti dulu. Dalam perspektif sosiologi budaya, _”pela gandong”_ adalah bentuk _social capital_ yang merekatkan masyarakat lintas iman, jauh sebelum konsep toleransi dibahas di ruang akademik. “Beta menangis waktu baca itu,” lanjutnya jujur. ‘Karena buku ini bikin beta mangerti, toleransi di Ambon itu bukan teori. Dia lahir dari hidup bersama, dirawat dari hari ke hari. Sekarang… bingkai itu su kaya retak.” Kata-katanya jatuh satu-satu, seperti hujan di atap seng jujur, nyaring, dan menyisakan gema panjang di dada siapa pun yang mendengarnya.
Yudistira Sukatanya, sastrawan dan budayawan, tampil sebagai pembicara ketiga dengan nada reflektif, nada orang yang membaca bukan hanya teks, tetapi juga konteks. Ia mengatakan bahwa membaca “Ana Makassar Basar di Ambon” terasa seperti diajak melancong ke Ambon, bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai penziarah ingatan. Baginya, buku ini bekerja sebagai esai sosiologis karena tidak sebatas bercerita tentang pengalaman personal, tetapi memotret relasi sosial, tradisi, dan perubahan budaya masyarakat Ambon. Namun esai itu tidak kaku; ia hadir dalam bentuk reportase jurnalistik yang ringan seperti yang disebutkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism, bahwa jurnalisme yang baik adalah “memberi makna pada fakta, bukan sebatas menyajikannya.” Rusdin Tompo, menurut Yudistira, menulis dengan mata jurnalis yakni mencatat detail, merawat suasana, dan menghadirkan realitas tanpa menggurui, sehingga pembaca merasa sedang diajak berjalan, bukan diajari berdiri.
Lebih jauh, Yudistira melihat buku ini sebagai praktik jurnalisme warga (citizen journalism) sebuah bentuk penulisan yang lahir dari pengalaman langsung warga, bukan dari menara redaksi. Dalam tradisi ini, penulis menjadi saksi sekaligus bagian dari peristiwa. Rusdin Tompo menulis sebagai “orang yang hidup di sana”, bukan sebagai pengamat dari luar. Ia juga menyebutnya sebagai jurnalisme demografis, karena buku ini dengan sadar menampilkan wajah manusia Ambon dalam keragamannya yakni lintas suku, lintas agama, lintas latar sosial. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Clifford Geertz tentang thick description bahwa kebudayaan harus dipahami lewat detail kehidupan sehari-hari, bukan generalisasi. Dengan cara itu, Ambon tidak hadir sebagai statistik konflik atau berita sensasional, melainkan sebagai ruang hidup yang berdenyut oleh relasi antar-manusia.












