Kesempatan pertama berbicara diberikan kepada Dr. Zulkarnain Hamson. Ia tidak tergesa menyusun kesimpulan, sebagaimana seorang jurnalis yang tahu betul bahwa cerita yang kuat selalu berangkat dari ingatan. Suaranya tenang, tertata, seperti orang Maluku yang hendak buka carita lama pelan, penuh rasa, dan memberi ruang bagi yang mendengar untuk ikut duduk dalam ingatan itu. Ia berbicara seolah sedang menyusun kembali serpihan masa lalu yang selama ini tersimpan rapi, tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Ia bertutur bahwa membaca “Ana Makassar Basar di Ambon” karya Bang Rusdin Tompo bukan sebatas membaca buku, melainkan sebuah proses komunikasi batin antara teks, pengalaman hidup, dan ingatan kolektif orang Maluku. Buku itu, katanya, menghidupkan kembali Maluku yang pernah berjalan dalam keseharian yakni Maluku yang hidup dalam “baku dapa, baku jaga, dan baku sayang”. Bukan Maluku yang sibuk memproduksi jargon toleransi, tetapi Maluku yang menjalani toleransi sebagai napas hidup. Dalam kajian komunikasi budaya, ini sejalan dengan pandangan Edward T. Hall tentang high-context culture, di mana nilai dan makna tidak dijelaskan secara verbal, melainkan diwariskan lewat laku hidup sehari-hari.
Ia lalu masuk pada satu fondasi penting kehidupan orang Maluku yakni “pela gandong”. Sebuah ikatan persaudaraan antar-negeri yang telah hidup jauh sebelum negara dan agama modern hadir di Maluku. Dalam catatan antropolog Dieter Bartels (Guarding the Invisible Mountain, 1977), pela gandong bukan sebatas perjanjian sosial, melainkan sistem moral kolektif yang mengikat orang Maluku untuk saling melindungi, bahkan lintas iman dan pulau. “Katong bisa beda agama,” kata Dr. Zulkarnain, “tapi katong satu gandong.” Ikatan ini bekerja sebagai modal sosial (social capital) yang menjaga harmoni yakni saat satu negeri susah, negeri gandong wajib datang membantu, tanpa tanya latar belakang.
“Toleransi itu dulu,” katanya pelan, “tidak dipidatokan.” Ia menegaskan bahwa nilai hidup bersama kala itu tidak diumumkan di mimbar, tidak ditulis di spanduk. Ia hidup dalam tindakan yaitu saat gereja dibangun, masjid ikut bantu; saat masjid berdiri, gereja ikut jaga. Dalam bahasa komunikasi, ia menyebut bahwa pesan paling kuat bukanlah yang diteriakkan, melainkan yang hidup diam-diam dalam perilaku, sejalan dengan gagasan Marshall McLuhan bahwa the medium is the message. “Cara hidup orang Maluku itulah pesannya”.
Lalu, di tengah kalimat berikutnya, suaranya berhenti. Ia menunduk. Nafasnya tercekat. Matanya berkaca-kaca. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Ruangan seolah ikut menahan napas. Dr. Zulkarnain Hamson jurnalis yang terbiasa mengelola emosi di depan publik kini tidak lagi mampu menyembunyikan haru. Air mata jatuh perlahan. Barangkali ingatan tentang Maluku datang terlalu dekat yakni tentang “pela gandong” yang kini merenggang, tentang “basudara” yang dulu baku jaga kini saling curiga. Maluku bukan lagi sebatas wilayah baginya, melainkan luka kolektif yang belum sepenuhnya sembuh. Dalam diam itu, kesedihan berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
Ketika ia kembali mengangkat kepala, suaranya nyaris bergetar. “Izinkan saya mengatakan satu hal,” ujarnya lirih. “Bung Rusdin Tompo ini telah menjadi manusia Indonesia yang utuh.” Ia menambahkan, Bung Rusdin berhasil menjadi orang Ambon meskipun ia orang Makassar. Sebuah penegasan bahwa identitas tidak hanya ditentukan oleh darah dan asal, tetapi oleh kesediaan memahami, mencintai, dan hidup bersama. Dalam bahasa Maluku yaitu “ale bukan orang sini karena lahir di sini, tapi karena ale jaga katong pung rasa basudara”. Dan di situlah, di ruang persidangan museum kota Makassar, nostalgia menemukan wajahnya yang paling jujur perih, hangat, dan penuh cinta.












