5 Agenda di Penghujung 2025 (31), Ajakan Om Awing

Kami pun berpisah, membawa pulang bukan hanya ilmu, tapi juga rasa hangat dari kebersamaan yang tidak direncanakan namun justru itulah yang paling berkesan.

Dari warung sate itu, kami berpisah. Jalan hidup kembali memanggil kami ke arah masing-masing. Saya melaju ke rumah di Daeng Tata. Coach Anas bersama kakaknya dan Bu Heny menuju Taeng, Gowa;(rumah bu Heny).

Sementara Bu Wanti, Pak Mul, dan Bu Susi pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada perpisahan yang dibuat-buat, hanya lambaian kecil dan doa dalam hati karena kami tahu, pertemuan yang baik tidak selalu perlu diakhiri dengan kata-kata panjang.

“Berpisah bukan berarti menjauh, kadang itu cara Tuhan mengatur pertemuan berikutnya.” ~ Buya Hamka

Saat saya tiba di rumah, suasana kompleks justru sedang ramai. Malam itu langit tidak lagi sunyi. Musik dari berbagai arah saling bersahutan, bercampur dengan suara petasan dan mercon yang saling beradu di udara. Semua seperti berlomba menandai satu hal yaitu berakhirnya 2025 dan datangnya 2026.

BACA JUGA:  PULAU SEMBILAN SEMBARI PENYULUHAN

Lampu-lampu menyala terang, tawa dan sorak terdengar jelas. Banyak orang merayakan pergantian waktu dengan cara mereka sendiri dengan bunyi, dengan keramaian, dengan kegembiraan yang diekspresikan keluar.

“Manusia punya cara masing-masing dalam merayakan waktu, namun tidak semua perayaan harus disaksikan.” ~ Nurcholish Madjid

Saya yang tidak terbiasa merayakan pergantian tahun memilih jalan yang lebih sunyi. Masuk ke rumah, berganti pakaian dari luar, mencuci kaki, lalu berwudhu. Air menyentuh kulit seperti menghapus lelah hari yang panjang. Tidak ada hitung mundur. Tidak ada kembang api yang saya tunggu.

“Kesunyian sering kali lebih jujur dalam berbicara tentang diri kita.” ~ Imam Al-Ghazali

Saya masuk ke kamar, merebahkan tubuh, membiarkan suara di luar tetap di luar. Tahun berganti, tapi bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana diri ini tetap utuh di hadapan Tuhan. Tidak semua orang perlu menutup tahun dengan pesta; sebagian cukup menutupnya dengan syukur dan istirahat.

“Waktu boleh berganti, tapi arah hidup harus tetap menuju Allah.” ~ Hasan Al-Bashri

BACA JUGA:  Dr Ahmad Abdul Azis Dokter Orthopedi Cari Jalan Jihad di Gaza

Malam itu, 2025 saya lepaskan tanpa gegap gempita. Dalam diam, saya percaya bahwa doa yang tidak terdengar manusia, justru paling jelas sampai ke langit.

“Tidak semua yang tenang itu kosong, sebagian justru sedang penuh oleh rasa syukur.”

Dan di sanalah saya tertidur menutup satu tahun, membuka yang lain dengan keyakinan sederhana bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan saat manusia memilih diam.

_Parang Tambung, 31/12/2025_