MENGAPA SAYA TETAP OPTIMIS TERHADAP PRABOWO

– Walau Sudah Dimulai Percikan dari Sebagian Civil Society Soal Pemakzulan dan Penggulingan

Oleh Denny JA

NusantaraInsight, Jakarta — Malam itu, layar ponsel saya seperti jendela kecil menuju kegelisahan bangsa.

Sebuah video beredar cepat. Seorang aktivis lembaga Kontras, sedang naik motor, wajahnya disiram cairan oleh pengendara motor lain.

Air keras itu membakar bukan hanya kulitnya, tetapi juga rasa aman kita sebagai warga negara.

Ia berteriak. Ia tidak bisa melawan, mengejar penyiramnya. Dalam teriaknya, ada jeritan yang lebih nyaring daripada ribuan demonstrasi.

Di layar lain, seorang intelektual, pakar hukum tata negara, berbicara tenang tentang kemungkinan pemakzulan Prabowo. Kata-katanya tidak berapi-api, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih dingin, lebih rasional, dan karena itu lebih berbahaya.

Seorang akademisi dan peneliti mendorong lebih jauh. Jalur formal pemakzulan Prabowo, katanya, hampir mustahil. Ia menawarkan jalan lain: menjatuhkan Prabowo lewat aksi massa seperti tahun 1998.

Seakan bangsa ini sedang berdiri di sebuah persimpangan yang sunyi. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada kerusuhan masif setelah aksi protes Agustus tahun 2025. Hanya akumulasi kecil dari kegelisahan yang mulai menemukan bahasanya.

BACA JUGA:  Jejak Toleransi : Pelajaran Mozarabes di Semenanjung Iberia untuk Indonesia

Namun di tengah semua itu, saya memilih untuk tetap optimis terhadap Prabowo. Mengapa?

-000-

Sebelum menjelaskan mengapa saya tetap optimis terhadap Prabowo, saya mencoba memahami apa yang menjadi sumber percikan kegelisahan itu.

Kondisi ekonomi memang sedang tidak baik-baik saja. Data survei LSI Denny JA, Maret 2026, menunjukkan sebuah paradoks. Kepuasan atas Prabowo sebagai presiden tetap tinggi.

Tetapi pada saat yang sama, ketidakpuasan juga tinggi terhadap situasi ekonomi, sulitnya mencari kerja, dan harga-harga yang terus naik.

Dalam konteks seperti inilah, kegelisahan itu menemukan momentumnya.

1. Penyiraman Air Keras dan Ketakutan Akan Represi

Peristiwa penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras bukan sekadar tindakan kriminal. Ia adalah simbol. Simbol dari sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan.

Ketika kekerasan menyasar mereka yang bersuara, maka yang terluka bukan hanya individu. Yang terluka adalah ruang demokrasi itu sendiri.

Kekhawatiran mulai tumbuh. Walau pelakunya dianggap hanya oknum TNI, persepsi berbeda melayang liar.

Apakah ini pertanda awal bahwa kritik akan dibalas dengan intimidasi. Apakah ini sinyal bahwa negara mulai kehilangan toleransinya terhadap suara yang berbeda.

BACA JUGA:  KEBANGKITAN KEARSIPAN SULSEL, STAGNANISASI SRIKANDI (MOMENTUM HARI KEARSIPAN)

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah dugaan keterlibatan oknum aparat yang lebih tinggi. Jika benar, maka ini bukan lagi soal individu. Ini soal institusi. Soal budaya kekuasaan.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia terkikis perlahan. Dimulai dari pembiaran kecil. Dari satu kasus yang tidak dituntaskan. Dari satu suara yang dibungkam.

Civil society membaca tanda-tanda itu. Mereka tidak sekadar bereaksi. Mereka mengingat.

Dan justru ingatan kolektif itulah yang membuat kekhawatiran ini terasa begitu nyata.

-000-

2. Politik Luar Negeri yang Dianggap Menyimpang dari Bebas Aktif

Indonesia selama puluhan tahun dikenal dengan prinsip bebas aktif. Tidak berpihak, tetapi aktif dalam menjaga perdamaian.

Namun kini, sebagian melihat adanya pergeseran.

Keterlibatan Indonesia dalam blok tertentu, yang justru terasosiasi dengan konflik, menimbulkan pertanyaan. Apakah kita masih bebas. Ataukah kita mulai terseret arus geopolitik global.

Lebih jauh lagi, ada kegelisahan yang lebih dalam. Di dalam negeri, sentimen publik terhadap Israel dan Donald Trump sangat negatif. Bukan tanpa alasan. Gambar-gambar anak-anak yang tewas di Gaza, tubuh kecil yang terbungkus kain putih, telah menghantui nurani kolektif bangsa ini.