Dalam sesi tanggapan, beberapa peserta mengaitkan pemikiran Bung Hatta dengan kondisi dakwah saat ini. Seorang peserta menyoroti bahwa berbuat baik tidak seharusnya bergantung pada situasi lingkungan, tetapi lahir dari kesadaran kepada Allah. Dengan orientasi semacam itu, seseorang tidak mudah patah semangat dalam berkontribusi bagi masyarakat.
Menanggapi peserta, Muttaqin menegaskan bahwa dalam pandangan Bung Hatta, setiap aktivitas manusia, termasuk kerja sosial dan pembangunan masyarakat, harus berangkat dari kesadaran spiritual serta keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah. Keikhlasan itu, menurutnya, tidak sekadar sikap batin, tetapi tercermin dalam kesediaan seseorang berjalan bersama orang-orang yang beriman, taat, dan berkomitmen pada kebenaran.
Muttaqin menutup diskusi dengan mengingatkan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas amal dan kontribusi sosial. Dalam perspektif Bung Hatta, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan dan keikhlasan.
Diskusi berakhir tepat pukul 18.00 Wita. Seperti biasa diskusi ini dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (RW)












