Bahwa pernikahan bukan hanya sebatas kontrak sosial, tapi sebuah rekonstruksi cinta ilahiah dua jiwa yang berjanji untuk saling menyayangi, setia tanpa sekat, mencintai tanpa menduakan, dan melindungi dalam segala cuaca kehidupan. Seperti cinta antara Allah SWT dan hamba-Nya, cinta suami-istri adalah cinta yang saling merawat, bukan menyakiti. Cinta yang sabar menghadapi badai, bukan lari saat ombak menghantam.
Saat seorang istri memeluk lelah suaminya, dan suami mencium kening istrinya dengan doa, di situlah cinta langit berlabuh di bumi. Hubungan ini bukan hanya jasad yang bersatu, tapi ruh yang saling menyapa, sebagaimana ruh kita dahulu menyapa Tuhan kita di alam persaksian.
Maka ketika badai rumah tangga datang, ingatlah, kita pernah berjanji pada-Nya, bahwa kita akan bersaksi atas cinta. Dan cinta sejati bukan yang mudah runtuh oleh cobaan, tapi yang mengakar dalam ketulusan.
Cinta yang halal ini seharusnya meneladani cinta ruh kepada Rabb-nya :
1. Tanpa menduakan pasangan.
2. Tanpa mencelakai dalam ucapan dan perbuatan.
3. Tanpa meninggalkan saat badai kehidupan datang.
4. Tanpa lelah saling menjaga dalam suka maupun duka.
Seorang suami bukan hanya pemimpin, tapi juga pelindung. Seorang istri bukan hanya pendamping, tapi juga peneduh. Ketika mereka saling bersaksi dalam pernikahan, mereka sedang menghidupkan kembali makna ayat ini menjadikan cinta sebagai ibadah, bukan sebatas rasa.
Menyulam Kembali Cinta kepada Allah
Cinta antara Allah dan hamba-Nya mengajarkan kita bahwa cinta yang murni selalu berawal dari pengakuan, dijaga dengan kesetiaan, dan bertahan dalam keikhlasan. Sebagaimana kita bersaksi dahulu di alam rahim, semoga kita terus bersaksi dalam hidup ini, bahwa cinta sejati tidak pernah mendua, tidak pernah menyakiti, dan selalu melindungi dari rahim hingga ke surga.
Ibu-ibu ku, malam ini, mari kita buka kembali lembaran janji itu. Mari kita renungi bahwa,
Apakah kita masih menjaga ikrar kita kepada Allah seperti dulu kala di alam ruh?
Apakah cinta kita pada Allah masih utuh, ataukah sudah mulai berbagi pada dunia dan ego yang sementara?
Mari kita bertanya pada diri sendiri bahwa,
Apakah saya masih menjaga janji setia itu kepada pasangan sebagaimana dulu saat ijab qabul? Apakah saya masih mencintainya seperti ruh mencintai Tuhannya penuh ketulusan dan pengabdian?
Malam ini bukan sekadar pengajian, ini adalah malam menghidupkan kembali cinta.
Cinta kepada Allah.
Cinta kepada pasangan.
Cinta kepada keluarga.
Dan ayat ini, walau hanya satu penggalan, adalah surat cinta dari Allah SWT kepada kita semua,
Bahwa kita dicintai bahkan sebelum kita tahu bagaimana caranya mencintai.
Semoga dari ruangan ini, cahaya cinta itu menyebar. Menerangi rumah kita, hati kita, dan generasi yang lahir dari rahim kita.
Karena cinta sejati selalu dimulai dari sebuah janji, “Balaa, syahidnaa…”
Kami bersaksi, ya Allah. Dan kami ingin tetap setia pada cinta itu… selamanya.
“Bebagi itu asyik dan menyenangkan”
Makassar, 27 Mei 2025












