“Quo Vadis Republik Indonesia?”

 

Bagi Andi Luhur, persoalannya bukan semata-mata keberadaan institusi demokrasi, melainkan bagaimana kekuasaan bekerja melalui hubungan politik dan bisnis. Ia menggunakan perspektif rational choice untuk menjelaskan bagaimana aturan dapat direkayasa, sehingga keuntungan akhirnya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

br

Pola serupa, menurutnya, juga dapat dilihat dalam cara keberhasilan diukur. Pemerintah maupun lembaga pendidikan kerap menggunakan peringkat, angka, dan indikator sebagai ukuran capaian. Masalahnya, angka tersebut tidak selalu menggambarkan kenyataan sosial.

 

Buat Ma’REFAT INSTITUTE, peringatan 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia bukanlah sekadar momentum seremonial. Pertanyaan “Quo Vadis”, akhirnya tidak hanya tentang ke mana Indonesia bergerak, tetapi juga kepada siapa yang akan menentukan arah tersebut, nilai apa yang digunakan, serta siapa yang memperoleh manfaat dari perjalanan pembangunan selama ini. Dan, satu hal yang mesti dilakukan oleh penyelenggara pemerintahan di negeri ini, jujur terhadap rakyatnya sendiri. Karena, Sang Proklamator Bung Hatta, telah mengingatkan kita, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur sulit diperbaiki.”

BACA JUGA:  Timur Tengah Memanas, Akankah Senjata Nuklir Dikerahkan?

 

Diskusi berakhir tepat pukul 16.00 WITA. Seperti biasa diskusi REFORMING dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (R-W)

br
br