Tim PKM-RE Unhas Hadapi MRSA dengan “Smart Bacteriophage-Liposomal”

Makassar, NusantaraInsight — Resistensi antibiotik semakin menyulitkan penanganan infeksi bakteri, termasuk Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang kerap menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak (Skin and Soft Tissue Infection/SSTI). Kondisi ini mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Hasanuddin mengembangkan inovasi terapi topikal bernama Smart Bacteriophage-Liposomal terintegrasi pH-Sensitive Hydrogel.

Inovasi ini mengombinasikan bakteriofag dan klindamisin dalam sistem pembawa liposom, lalu diintegrasikan ke dalam hidrogel sensitif pH. Tujuannya: meningkatkan efektivitas terapi pada luka kulit yang terinfeksi MRSA, terutama ketika bakteri mulai menunjukkan resistensi terhadap klindamisin.

br

Mengapa Inovasi Ini Diperlukan?

MRSA merupakan bakteri yang sulit ditangani karena resisten terhadap sejumlah antibiotik, termasuk metisilin; pada beberapa kasus, resistensi juga mulai muncul terhadap klindamisin. Infeksi MRSA pada kulit dapat memicu inflamasi, kerusakan jaringan, dan memperlambat proses penyembuhan luka.

Pendekatan yang hanya mengandalkan antibiotik konvensional semakin terbatas. Karena itu, strategi kombinasi—misalnya memanfaatkan bakteriofag yang secara spesifik menginfeksi bakteri target—menjadi opsi yang menarik untuk meningkatkan daya kendali terhadap infeksi.

BACA JUGA:  150 Paket Infak dari IKA FH-UH 87 Untuk Petugas Kebersihan di Makassar

Apa Itu “Smart Bacteriophage-Liposomal”?

Sistem yang dikembangkan tim merupakan smart delivery system untuk aplikasi topikal pada luka. Komponen utamanya:
Bakteriofag: virus yang menginfeksi bakteri tertentu, dalam hal ini ditargetkan untuk MRSA.
Klindamisin: antibiotik yang masih relevan, tetapi efektivitasnya dapat menurun bila resistensi muncul.
Liposom: partikel pembawa obat yang membantu melindungi dan mengantarkan agen aktif ke lokasi infeksi.

pH-Sensitive Hydrogel: hidrogel yang “peka” terhadap perubahan pH lingkungan luka, sehingga dapat melepaskan muatan secara lebih terarah sesuai kondisi mikro lingkungan luka yang cenderung asam saat terinfeksi/meradang.

Dengan desain ini, sistem diharapkan dapat melepaskan bakteriofag dan klindamisin secara lebih terkendali di area luka, sekaligus mendukung kondisi penyembuhan jaringan.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian menggunakan model luka pada kulit tikus yang diinduksi MRSA untuk meniru kondisi SSTI. Setelah infeksi terbentuk, masing-masing kelompok perlakuan diberikan intervensi sesuai rancangan, termasuk formulasi Smart Bacteriophage-Liposomal dalam hidrogel sensitif pH.

br
br