NusantaraInsight, Makassar — Prof. Dr. Abdul Saman, S.Pd., M.Si., Kons. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (29/7/2026).
Pada pidato ilmiahnya, Prof Abdul Saman mengangkat tema “Peningkatan Psychological Well-Being Generasi Digital: Transformasi Bimbingan dan Konseling dalam Mengatasi Fear of Missing Out (FoMO) dan Kecanduan Media Sosial”.
Di hadapan Sidang Terbuka Senat UNM, Prof Abdul Saman menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital telah menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya terkait kesehatan mental peserta didik.
Menurutnya, media sosial memang memberikan banyak manfaat sebagai sarana komunikasi, pembelajaran, dan berbagi informasi. Namun, penggunaan yang berlebihan juga memunculkan berbagai persoalan psikologis, seperti Fear of Missing Out (FoMO), kecanduan media sosial, kecemasan sosial, hingga menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) generasi muda.
Berdasarkan penelitian yang dipaparkannya terhadap 680 responden di Sulawesi Selatan, mayoritas siswa menghabiskan waktu 7–10 jam per hari menggunakan media sosial. Instagram menjadi platform yang paling banyak digunakan, disusul Facebook dan TikTok.
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya intensitas interaksi digital di kalangan remaja yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka.
Prof Abdul Saman menjelaskan bahwa FoMO ditandai dengan dorongan kuat untuk terus mengikuti aktivitas orang lain di media sosial, rasa cemas ketika tidak terhubung dengan internet, serta kebutuhan memperoleh validasi melalui jumlah “like”, komentar, dan respons dari pengguna lain.
“Semakin tinggi tingkat FoMO dan kecemasan sosial seseorang, maka kualitas hubungan positif dan penerimaan dirinya cenderung menurun,” paparnya berdasarkan hasil penelitian.
Self Acceptance Jadi Faktor Terkuat
Temuan utama dalam riset tersebut menunjukkan bahwa self acceptance (penerimaan diri) menjadi faktor paling kuat dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis peserta didik.
Menurut Prof Abdul Saman, individu yang mampu menerima dirinya secara positif memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari dampak negatif media sosial dibanding mereka yang terus mencari pengakuan dari lingkungan digital.
Karena itu, ia mendorong transformasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah agar tidak lagi hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga pada penguatan karakter, kesehatan mental, dan kemampuan adaptasi peserta didik di era digital.


br
br
br






br
br






br