Makassar, NusantaraInsight — Faika Burhan, Dosen Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari yang kelahiran Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, Kamis (5/11/2026) meraih gelar doktor di Universitas Hasanuddin.
Di depan sidang Ujian Promosi Doktor yang dipimpin Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas Prof.Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum, Dr. Faika Burhan, S.S., M.Hum dinyatakan berhak meraih gelar akademik tertinggi itu, setelah mempertahankan disertasi berjudul “Krisis Identitas Etnis Tionghoa Dalam 4 Novel Indonesia”.
Bertindak sebagai promotor promovenda (peserta ujuan doktor perempuan) kelahiran Sengkang 1 Januari 1985 ini, Prof.Dr.Fathur Rahman, M.Hum, Prof.Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum sebagai Ko-promotor, dengan penguji. Prof.Dr.Nurhayati, M.Hum (Ketua Program Studi Program Doktor Sastra Indonesia) , Prof.Dr. AB Takko Bandung, M.Hum, Dr. Andi Faisal, M.Hum, dan penguji eksternal Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum (UGM) yang menguji secara zoom.
Alumni S-1 FIB Unhas (2007) dan S-2 UGM Yogyakarta (2012) ini sudah menulis beberapa buku sejak tahun 2018 dan sejumlah jurnal pada tahun 2023, 2024 dan 2026.
Faika Burhan dalam disertasinya menyimpulkan, krisis identitas etnis Tionghoa dalam empat novel Indonesia (Naga Kuning, Putri Cina, Bukan Cinta Sesaat, dan Amoi) merupakan representasi dan konstruksi sosial historis yang dibentuk oleh relasi kuasa, diskriminasi, dan marginalisasi dalam masyarakat multietnis Indonesia.
“Dalam perspektif sosiologi sastra Alan Swingewood, karya sastra berfungsi sebagai refleksi struktur sosial yang merekam ketegangan antara kelompok mayoritas (pribumi) dan minoritas (etnis Tionghoa), sehingga krisis identitas dalam teks merupakan cerminan realitas sosial,” ujar Dosen FIB UHO Kendari tersebut.
Dampak utara krisis identitas yang ditemukan dalam penelitian Faika Burhan meliputi, pertama, kecemasan identitas akibat posisi sosial yang ambigu antara tuntutan asimilasi dan penolakan sosial. Kedua, sindrom inferionitas yang muncul dan internalisasi stigma sosial dan pengakaman diskriminasi historis. Ketiga, penguatan prasangka antaretnis melalui stereotip ekonomi, sejarah konflik, dan konstruksi sosial yang menempatkan etnis Tionghoa sebagai “the other”.
Ujian Promosi Doktor Ibu dua anak:Sofia Zhafira Makkulau dan Meutia Bitara Marauleng, hasil pernikahannya dengan Nasruddin, S.IP yang berlangsung di Ruang Senat FIB Unhas ini, juga dihadiri beberapa senior dan juniornya di Penerbitan Kampus “Identitas”, tempat Faika Burhan pernah tercatat sebagai anggota keluarga kecil. ‘Identitas; Unhas. (mda).












