Menulis sebagai Cara Merawat Ingatan

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Penggiat Sekolah Ramah Anak, Koordinator Satupena Sulawesi Selatan)

Makassar, NusantaraInsight — “Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena dapat mengubah dunia,” tulis Malala Yousafzai, aktivis pendidikan yang juga dikenal sebagai penulis.

Gadis kelahiran 12 Juli 1997 itu, berasal dari Swat Valley—tempat Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) melarang anak-anak perempuan keluar rumah dan bersekolah.

Pada 2009, ketika usianya kira-kira 11-12 tahun, Malala menulis di blognya untuk BBC Urdu dengan menggunakan nama samaran. Dia bercerita, betapa mengerikannya hidup di bawah rezim penguasa Taliban. Catatan harian (diary) Malala bisa dibaca dalam buku “I am Malala: Gadis Kecil Ditembus Peluru Demi Sekolah” (Nur Ihsan, 2013).

Kegigihannya memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak perempuan harus dibayar mahal. Malala suatu hari ditembak di atas bus, dalam perjalanan sepulang sekolah. Peluru bersarang di kepalanya.

Beruntung, dia masih bisa diselamatkan, setelah menjalani serangkaian operasi. Malala kini dikenal sebagai aktivis HAM. Perjuangannya diapresiasi. Ia diganjar International Children Peace Prize (2011), dan Nobel Peace Prize (2014).

BACA JUGA:  Paket Stimulus Pertumbuhan

***

Tradisi menulis memang sudah mesti ditumbuhkan sejak kanak-kanak, sebagai cara merawat ingatan dan kenangan. Dengan menulis, ada dokumentasi, ada catatan atas peristiwa, ada kreativitas dan imajinasi yang dilatihkan, serta cerita-cerita yang terus bertumbuh.

Menulis bahkan merupakan cara untuk melawan lewat kata-kata dan gagasan, atau paling tidak, sebagai cara melawan lupa. Dengan menulis, kita bukan sekadar merawat ingatan, tetapi juga mengurai persoalan ruwet menjadi lebih sistematis dan argumentatif.

Anak-anak mesti bisa diperbiasakan menulis tentang pengalaman mereka sehari-hari. Mereka juga bisa diajak menulis tentang apa yang mereka lihat, mereka dengar, mereka rasakan, mereka jalani dan alami, atau yang ingin mereka kemukakan.

Kegiatan menulis dengan anak-anak sejatinya tak perlu pakai teori dan metode yang muluk-muluk. Gunakan saja bahasa yang sederhana dan konkret.

Sejak mendirikan Lembaga Investigasi Studi Advokasi Media dan Anak (LISAN), di tahun 2000, saya sudah menggunakan aktivitas menulis, dan juga kesenian, untuk membangun kesadaran kritis anak-anak.

Kami, di LISAN, pernah membuat program pendampingan bagi anak-anak di beberapa desa di Kabupaten Takalar, antara lain Patani, Paddinging, dan Banyuanyara. Juga membuat program Riset Aksi bagi Pekerja Anak di sekitar Pasar Pannampu, Kota Makassar. Kedua program ini bekerja sama dan atas dukungan Plan Indonesia.

BACA JUGA:  Lumbung Literasi: Ruang Belajar Alternatif

Di Takalar, anak-anak menghasilkan produk berupa Buletin “Paraikatte”, tahun 2002. Kata “paraikatte” dalam bahasa Makassar, artinya sesama kita. Namun, “Paraikatte” dalam kaitan dengan buletin itu, merupakan akronim dari pengemban aspirasi anak kreatif dan terampil.

Di Panampu, kami membuat majalah dinding (mading) di Rumah Belajar LISAN, yang menampilkan tulisan dan gambar anak-anak dampingan. Anak-anak ini tinggal di dekat Pasar Panampu, bahkan bekerja di sana, dan ada pula yang bekerja di TPI Paotere.

Kami berterima kasih karena tawaran Program Menulis Kreatif mendapat sambutan hangat dari Hj. Baena, S.Pd., M.Pd, Kepala UPT SPF SD Inpres Banta-bantaeng 1, yang berada di Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.

Program Menulis Kreatif, yang diterapkan sejak tahun 2022 ini, bahkan menjadi bagian dari keberhasilan program inovasi Amal Ceria (Anak-Mama Lancar Literasi, Numerasi, Digital). Program Amal Ceria mampu mencapai Top 30 KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Tingkat Sulawesi Selatan, pada bulan September 2023.